Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sumber Pengilon Kahuman di Klaten, Jejak Air Suci Sejak Era Mataram Kuno

Angga Purenda • Rabu, 2 April 2025 | 01:25 WIB
Anak-anak sedang berenang di Sumber Pengilon di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten.
Anak-anak sedang berenang di Sumber Pengilon di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten.

RADARSOLO.COM-Desa Kahuman di Kecamatan Ngawen, Klaten, tak hanya dikenal sebagai desa tertua di Indonesia.

Tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang begitu kuat lewat keberadaan dua prasasti kuno, yakni Prasasti Upit I dan II.

Prasasti yang memuat angka tahun 866 Masehi itu dikeluarkan oleh Rakai Halaran, dan ditulis dengan aksara Jawa Kuno.

Salah satu saksi hidup sejarah desa ini adalah Sumber Pengilon.

Mata air alami yang dipercaya sudah ada sejak masa Mataram Kuno atau era Hindu-Buddha.

"Diduga Sumber Pengilon ini punya kaitan erat dengan Prasasti Upit. Indikasinya, tempat ini digunakan sebagai pentirtaan atau tempat penyucian diri sebelum memasuki kawasan sakral Persada Upit," ungkap Hari Wahyudi, pegiat cagar budaya asal Klaten yang juga putra asli Desa Kahuman.

Menurut Hari, keberadaan sumber air ini bahkan tercatat dalam peta topografi Belanda tahun 1930.

Meski tidak disebut secara naratif dalam dokumen kolonial, keberadaan saluran air yang dibuat Belanda mengindikasikan fungsinya dulu sangat vital.

"Zaman saya kecil, sering mandi di sana. Airnya sangat jernih, digunakan warga untuk mencuci dan mengairi kebun pala serta kapuk milik kolonial. Belanda bahkan membangun saluran airnya," kenangnya.

Hari juga menyebut dulunya terdapat tiga titik sumber mata air: Sumber Lanang, Sumber Wedok, dan satu lagi yang kini tidak banyak dikenal.

Legenda Para Bidadari dan Nama “Pengilon”

Menariknya, nama Sumber Pengilon muncul dari cerita turun-temurun yang begitu lekat di masyarakat.

Baca Juga: Pesona Kebun Teh Kemuning Karanganyar: Udara Sejuk, Hamparan Hijau, dan Wahana Menarik untuk Healing

Konon, kejernihan airnya dahulu seperti cermin bening yang bisa digunakan para bidadari dari kahyangan untuk "bercermin".

“Waktu dulu airnya seperti kaca, sangat jernih. Karena sering digunakan para bidadari bercermin, akhirnya dinamai Sumber Pengilon. Sayangnya, sekarang airnya mulai keruh,” jelas Hari.

Perubahan kejernihan air itu diduga terjadi setelah pohon besar jenis ficus di sekitar sumber tumbang. Sejak saat itu, debit air menurun drastis.

Selain cerita legenda, area sekitar Sumber Pengilon juga pernah ditemukan arca logam, yang diduga bagian dari kompleks candi bercorak Hindu yang masih belum tergali utuh.

Harapan untuk Pelestarian Alam dan Sejarah

Hari berharap pemerintah desa setempat tidak hanya mengeksplorasi potensi sumber tersebut, tetapi juga memperhatikan aspek konservasi.

“Saya berharap kawasan sekitar Sumber Pengilon dihijaukan lagi, agar debit airnya stabil dan bertahan lama. Jangan ganti pepohonan dengan bangunan permanen karena itu akan merusak ekosistem," tegasnya.

Menurutnya, air adalah sumber penghidupan, dan kelestarian alam menjadi kunci agar warisan sejarah serta kehidupan masyarakat tetap terjaga. (ren/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#mataram kuno #klaten #Prasasti Upit #Ngawen #air suci #sumber pengilon