RADARSOLO.COM – Hujan deras yang mengguyur wilayah Karangdowo, Klaten pada Kamis (3/4/2025) malam menyebabkan arus Sungai Babadan meluap deras dan menghantam jembatan penghubung antar dusun di Desa Babadan.
Akibatnya, jembatan sepanjang 15 meter dengan lebar 2,5 meter itu putus sekitar pukul 20.00 WIB.
Putusnya jembatan tersebut berdampak pada terganggunya akses warga antar dusun. Saat ini, pengendara sepeda motor harus memutar sejauh 500 meter, sedangkan kendaraan roda empat memutar hingga 1 kilometer untuk bisa menyeberang.
Jembatan yang menghubungkan RT 07 RW 3 dengan RT 1, 2, dan 3 RW 1 Dusun Babadan ini berada di ketinggian 7 meter dari dasar sungai.
Menurut warga, pondasi jembatan sudah retak sejak sebulan terakhir, dan sebelumnya telah dilarang dilewati kendaraan roda empat.
Tak hanya retaknya pondasi, tumpukan sampah yang menyangkut di tiang jembatan serta derasnya arus Sungai Babadan, turut memperparah kerusakan. Air sungai bahkan naik hingga hampir mencapai ketinggian 6 meter.
“Debit air dari Sungai Babadan ini cukup besar hingga membuat jembatan bergetar. Ditambah sumbatan sampah. Sebelum putus, terdengar suara gemuruh dan longsoran di sayap jembatan,” ungkap Amir (52), warga Desa Babadan, Jumat (4/4/2025).
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena saat kejadian tidak ada warga yang melintas.
Amir menambahkan bahwa jembatan ini dibangun pada 1985 dengan dana dari pemerintah desa dan swadaya masyarakat.
Fungsinya sangat vital bagi mobilitas warga karena menghubungkan wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Babadan, anak Sungai Dengkeng.
Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, mengatakan pihaknya telah meninjau lokasi jembatan putus ini pada Jumat pagi dan langsung menutup akses ke area tersebut untuk sementara.
“Hujan deras membuat volume air naik tajam, termasuk di wilayah Karangdowo ini. Jembatan antar dusun di Babadan akhirnya terputus. Kami sudah koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Dinas PUPR Klaten untuk tindak lanjut,” jelas Syahruna.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terkait rumah warga yang berada di sisi jembatan. Rumah tersebut berisiko longsor jika debit air sungai kembali meningkat.
“Sebenarnya dua bulan lalu kami sudah memprediksi risiko longsor karena arus terus menghantam. Tapi ternyata jembatannya yang lebih dulu putus,” ujarnya. (ren)
Editor : Damianus Bram