RADARSOLO.COM-Tradisi grebeg syawalan di Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat digelar oleh Pemkab Klaten, Senin (7/4/2025).
Ada 23 gunungan ketupat sekira 1,2 ton yang dikirab dari gerbang menuju panggung utama dengan jarak sekira 200 meter dan diiringi musik hadrah.
Kirab itu langsung dipimpin Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo diikuti rombongan gunungan ketupat di belakangnya.
Gunungan ketupat berasal dari bupati, organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Klaten hingga instansi vertikal. Dikirab dengan cara dipanggul oleh peserta.
Dilanjutkan dengan tarian selamat datang untuk menyambut kedatangan 23 gunungan ketupat di panggung utama.
Kemudian dilaksanakan doa bersama dan sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sri Nugroho dan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.
Saat sambutan berlangsung tampak ribuan yang hadir tak sabar untuk berebut ketupat.
Selain ketupat, terdapat juga aneka sayur dan buah serta lauk-pauk khas Lebaran.
Bahkan ada gunungan ketupat berisikan voucher belanja sehingga menarik perhatian warga untuk berebut.
Bupati Klaten Hamenang sempat menyebarkan sejumlah ketupat ke masyarakat dari panggung utama.
Setelah itu, warga langsung menyerbu puluhan gunungan ketupat tersebut.
Dalam waktu kurang dari 15 menit, gunungan ketupat langsung ludes habis diperebutkan warga.
Pada tradisi tersebut, Pemkab Klaten juga membagikan 1.000 porsi ketupat opor kepada warga.
Terutama mereka yang sudah mengantongi voucher sebelumnya di kawasan Bukit Sidoguro tersebut.
“Ini tradisi yang sudah turun temurun yang dipertahankan sampai saat ini. Acara ini dilaksanakan sebagai bagian tradisi, sekaligus halal bihalal karena masih bulan syawal. Kita saling bermaaf-maafan dan berlebaran dengan masyarakat Klaten,” ujar Hamenang.
Lebih lanjut, Hamenang mengharapkan, bahwa tradisi grebeg syawalan bisa terus dilestarikan sehingga anak-cucu bisa merasakan.
Menurutnya, tradisi yang digelar setiap tahunnya itu tidak hanya sekadar berebut ketupat saja. Tetapi juga memaknai tradisi tersebut sebagai berbagi.
“Alhamdulillah antusias masyarakat cukup tinggi untuk mengikuti tradisi grebeg syawalan ini. Terpenting bisa tertib. Ketupat didapatkan oleh warga bisa disantap bersama keluarganya. Makanya itu kita berbagi di bulan syawal semoga berkah dan barokah semuanya,” ujar Hamenang.
Salah satu warga yang ikut berebut ketupat, Pur Santoso, 40, asal Kecamatan Trucuk, Klaten mengaku mendapatkan 15 kilogram ketupat dari puluhan gunungan yang diperebutkan.
Rencananya hendak dibagikan kepada keluarga besarnya yang masih berlebaran di Klaten.
“Memang dari keluarga minta untuk dibawakan. Kebetulan belum pulang (ke perantauan) jadi bisa disantap. Kalau tidak habis bisa dihangatkan,” ujar Pur yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang di Jakarta ini.
Pur memang sengaja datang ke tradisi grebeg syawalan tersebut sebelum balik lagi ke Jakarta.
Dirinya selalu menyempatkan untuk datang ke tradisi setiap tahun sekali saat pulang kampung di Klaten. (ren/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono