Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mengungkap Keracunan Massal di Karangturi, Ini Hasil Uji Lab Makanan

Angga Purenda • Senin, 21 April 2025 | 22:18 WIB
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Anggit Budiarto
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Anggit Budiarto

RADARSOLO.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klaten akhirnya merilis hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan massal yang terjadi di Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno.

Kasus ini mencuat usai ratusan warga mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan pada acara tasyakuran wayang kulit, Sabtu (12/4/2025) lalu.

Kepala Dinkes Klaten, Anggit Budiarto, menyatakan bahwa hasil uji laboratorium dari Balai Kesehatan Semarang menunjukkan hasil negatif untuk unsur kimiawi.

Artinya, tidak ditemukan zat berbahaya yang memicu keracunan pada makanan yang disajikan.

“Untuk hasil laboratorium dari Balai Kesehatan Semarang yang terkait dengan kimiawi dinyatakan negatif. Jadi tidak ada zat-zat yang menimbulkan keracunan. Namun yang bakteriologis belum keluar hasilnya,” ujar Anggit saat ditemui di Pendapa Pemkab Klaten, Senin (21/4/2025).

Meski begitu, Anggit menyebut bahwa hasil uji laboratorium untuk aspek bakteriologis masih dalam proses dan diperkirakan akan keluar dalam waktu 10 hari sejak sampel dikirim minggu lalu.

Pihaknya memilih menunggu hasil tersebut untuk memastikan penyebab pasti insiden ini.

Sementara itu, uji laboratorium terhadap sampel air yang digunakan dalam pengolahan makanan menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan.

Kandungan coliform mencapai 200, jauh di atas ambang batas aman sebesar 50. Sementara kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) mencapai angka 88, padahal seharusnya nol.

“Untuk sampel air yang diuji lab di Dinkes sendiri terkait coliform dan E. coli-nya memang tinggi,” lanjut Anggit.

Dari kombinasi hasil tersebut, Dinkes Klaten menyimpulkan bahwa penyebab keracunan massal di Karangturi kemungkinan besar berasal dari kontaminasi bakteriologis, bukan bahan kimia.

“Tak bisa dipastikan bakteri apa yang menyebabkan warga keracunan. Tapi dari data yang keluar, coliform dan E. coli-nya tinggi. Itu sudah mengarah pada bakteriologis,” tegasnya.

Hingga kini, seluruh warga yang sempat menjalani perawatan akibat keracunan telah dinyatakan sembuh dan pulang ke rumah. Dari total 160 kasus, sebanyak 159 orang dirawat secara medis dan satu orang meninggal dunia.

Dinkes Klaten juga terus melakukan pemantauan pasca-perawatan terhadap para korban, termasuk yang masih menjalani kontrol ke fasilitas kesehatan.

“Tingginya coliform dan E. coli bisa mengganggu sistem pencernaan. Maka dari itu, kami lebih menekankan pentingnya penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM),” kata Anggit.

Program STBM mencakup lima pilar, mulai dari mengakhiri buang air besar sembarangan, pengelolaan air bersih dan limbah rumah tangga, pengelolaan sampah, hingga kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan memasak dengan cara yang higienis.

Dinkes juga menekankan pentingnya jarak ideal antara sumber air dan septic tank minimal 10 meter sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sehat dan mencegah kejadian serupa di masa depan. (ren)

Editor : Damianus Bram
#Keracunan Massal #uji lab #Dinkes Klaten #wayang kulit #desa karangturi