Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Waspadai Bencana Hidrometeorologi di Masa Peralihan Musim, Ini Penjelasan BPBD Klaten

Angga Purenda • Rabu, 7 Mei 2025 | 21:56 WIB
Penanganan terhadap joglo yang roboh di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Penanganan terhadap joglo yang roboh di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Selama dua hari terakhir, Kabupaten Klaten dilanda bencana hidremeteorologi berupa hujan deras disertai angin kencang pada Senin-Selasa (5-6/5/2025). Hal itu membuat wilayah Kecamatan Prambanan, Bayat dan Wedi terdampak akibat bencana tersebut.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Syahruna menjelaskan bahwa pada Mei memasuki awal musim kemarau. Meski begitu, hujan deras disertai angin kencang masih melanda wilayah Klaten.

“Untuk puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli-Agustus 2025. Kalau sekarang ini posisinya musim pancaroba, peralihan musim,” ujar Syahruna saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (7/5/2025).

Lebih lanjut, Syahruna menjelaskan, untuk masa pancaroba seharusnya terjadi sebelum April. Tetapi hingga awal Mei, Klaten masih diguyur hujan deras disertai angin kencang hingga membuat pohon tumbang hingga sejumalh rumah warga mengalami kerusakan.

“Jadi cuacanya bisa cepat berubah. Kalau sudah sampai mendung kemudian hujan disertai angin seperti dua hari terakhir ini,” ujar Syahruna.

Lebih lanjut, Syahruna mengungkapkan, ada sejumlah hal yang perlu diwaspadai pada musim peralihan kali ini. Mengingat hingga awal Mei ini masih ada hujan deras meski sudah jarang terjadi.

Kejadian bencana hidrometeorologi terjadi pada Senin (5/5/2025) sore yang melanda wilayah Kecamatan Prambanan. Terdapat sejumlah rumah yang bagian atapnya mengalami kerusakan setelah disapu angin kencang. Begitu juga joglo di Desa Kebondalem Kidul yang mengalami roboh.

Berlanjut pada Selasa (6/5/2025) sore melanda wilayah Kecamatan Bayat dan Wedi. Terdapat pohon tumbang yang menimpa garasi sehingga satu unit mobil dan dua unit sepeda motor mengalami kerusakan. Begitu juga satu perahu pancingan yang berada di Rowo Jombor, Desa Krakitan, Bayat mengalami kerusakan.

“Tetapi sudah dilakukan penanganan semuanya. Melibatkan BPBD, Damkar, relawan, masyarakat dan perangkat desa. Tidak ada korban jiwa baik luka-luka maupun meninggal dunia dari kejadian,” ujar Syahruna.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Kebondalem Kidul Daru Purnomo untuk joglo yang roboh di kawasan wisata sudah ditangani oleh perangkat desa dan relawan.

Meski begitu, robohnya joglo itu tidak sampai menganggu kegiatan pariwisata di Kebondalem Kidul yang dikenal dengan potensinya Candi Sojiwan.

“Kalau kerugian ditaksir sekira Rp 40 juta. Sedangkan untuk kegiatan pariwisata masih berjalan. Apalagi untuk kegiatan kemah masih tetap berjalan,” ujar Daru.(ren/adi)

Editor : Adi Pras
#prambanan #Candi Sojiwan #klaten #bayat #bencana hidrometeorologi #Wedi #hujan deras