RADARSOLO.COM - Perajin besek di Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten kebanjiran pesanan jelang Hari Raya Idul Adha.
Para perajin mulai menyiapkan persediaan besek untuk wadah daging kurban yang biasanya alami lonjakan jelang penyembelihan hewan kurban.
Salah satu perajin besek Desa Bero, Lilis Istiqomah, 40, yang saat ini dibantu tetangga sekitarnya untuk memproduksi besek di teras rumahnya.
Dalam sehari, Lilis sanggup membuat hingga 20 tangkep (yang terdiri dari wadah dan tutup besek).
"Biasanya kalau mendekati Idul Adha sudah ada pesanan. Makanya itu kami buat dulu untuk persediaan," ujar Lilis, Minggu (1/6/2025).
Lebih lanjut, Lilis menjelaskan, bahwa langganan yang membeli produk beseknya untuk keperluan wadah daging kurban dari daerah Delanggu.
Panitia kurban membeli beseknya karena dinilai lebih ramah lingkungan.
Berkaca pada pengalaman tahun lalu, pesanan besek jelang Idul Adha bisa mencapai 600 tankep.
Selain Delanggu, permintaan juga datang dari sejumlah daerah di Klaten.
"Untuk ukuran besek yang kami produksi bervariasi. Mulai dari 25 cm x 25 cm yang digunakan untuk wadah tradisi tonjokan dan daging kurban juga. Harganya sendiri per tangkep Rp 2.000," ujar Lilis.
Sementara itu, ada juga besek dengan ukuran 20 cm x 20 cm, 13 cm x 13 cm dan 10 cm x 10 cm.
Harganya bervariasi tergantung ukuran. Untuk ukuran terkecil dibanderol dengan harga Rp 1.000 per tangkep.
Lilis mengungkapkan, besek buatannya menggunakan bahan utama dari bambu apus yang harganya Rp 17.000 per batang.
Meski harga bahan baku terus mengalami kenaikan tetapi dirinya mempertahankan harga yang ada.
Hal itu dilakukan agar pelanggannya selama ini tidak meninggalkan.
“Usaha ini sudah turun-temurun. Dikerjakan oleh ibu-ibu sebagai pekerjaan sampingan di rumah. Banyak yang bisa kok untuk membuat besek ini,” ujar Lilis.
Ia mengungkapkan, peluang usaha tidak hanya memanfaatkan momentum Idul Adha saja.
Tetapi juga permintaan sebagai wadah seserahan pernikahan hingga makanan saat hajatan.
Biasanya pemesanan juga datang dari luar kota seperti Bengkulu, Yogyakarta dan Kalimantan.
“Rata-rata pemesanan ya bisa sampai 500 besek,” tambah Lilis.
Sementara itu, perajin besek lainnya, Sri Mulyani membenarkan bahwa desanya sebagai sentra pembuatan besek.
Jelang Idul Adha seperti saat ini disibukan dengan pembuatan besek untuk wadah daging korban.
“Produksi besek ini biasanya ya dilakukan oleh ibu-ibu. Tetapi selain besek, biasanya warga juga membuat tomblok, tampah dan rinjing,” ucapnya. (ren/adi)
Editor : Adi Pras