RADARSOLO.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten terus memperketat lalu lintas ternak jelang Idul Adha.
Terlebih lagi pasca ditemukan sembilan ekor sapi mati mendadak di Desa Gemampir, Karangnongko, Klaten yang diduga terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).
Saat ini sudah ada 19 tim kesehatan hewan yang diterjunkan DKPP untuk mengecek seluruh sapi dan kambing yang ada di Klaten.
Termasuk melakukan pemeriksaan di pasar hewan, seperti yang dilaksanakan di Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom pada Selasa (3/6/2025).
Dari pantauan Radarsolo.com, sapi yang masuk ke Pasar Hewan Jatinom dilakukan penyemprotan disinfektan.
Begitu juga melakukan pemeriksaan terhadap bagian mulut sapi. Hal itu dilakukan guna memastikan kesehatan sapi yang ada di pasar hewan tersebut.
”Kami melakukan pengawasan ke Pasar Hewan di Jatinom yang lalu lintas sapinya mengalami peningkatan jelang Idul Adha. Dari tim kesehatan hewan selalu melakukan pengawasan dan mendampingi para pedagang serta pembeli guna memastikan sapi dalam kondisi sehat,” ujar Kepala DKPP Klaten Iwan Kurniawan, Selasa (3/6/2025).
Iwan menjelaskan, melalui pemeriksaan yang dilakukan itu, diharapkan sapi yang dibeli untuk hewan kurban layak di konsumsi. Maka itu, melalui pemeriksaan di pasar hewan terus dilakukan.
”Harapannya hewan yang datang di luar memang harus dicek kondisinya. Begitu juga harus divaksin dan nanti kalau sampai ke lokasi (kandang) harus dikarantina dulu selama empat hingga lima hari untuk melihat kondisi dan perkembangan kesehatan sehingga tidak menular hewan lainnya yang sehat jika terindikasikan tidak baik,” ujar Iwan.
Iwan memastikan, pemeriksaan kesehatan hewan kurban tetap dilakukan hingga Hari Raya Idul Adha. Bahkan melakukan pengecekan terhadap daging kurban yang sudah disembelih untuk memastikan layak dan aman konsumsi.
Pengawasan dan pengecekan yang dilakukan oleh tim kesehatan DKPP untuk mencegah merebaknya wabah PMK di Klaten. Meski saat ini sudah terkendali, tetapi dikhawatirkan karena hewan yang datang dari luar daerah cukup banyak sehingga perlu diantisipasi.
”Maka itu perlu kita antisipasi untuk mencegah penyebaran di wilayah Klaten. Seperti di Pasar Hewan Jatinom ini selain pasar lokal juga ada sebagian datang dari Boyolali. Kalau untuk kasus di Gemampir itu karena pembelian di Boyolali dan langsung dimasukan ke kandang komunal serta tidak disendirikan,” ujar Iwan. (ren/adi)
Editor : Adi Pras