RADARSOLO.COM – Tradisi unik dilakukan warga RT 16 RW 06 Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten.
Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa membawa gunungan hasil bumi yang sudah matang, jenang manggul hingga bibit pohon.
Kemudian dibawa dari Kali Butuh ke Kali Putih di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Mereka juga melakukan penanaman pohon di gunung tersebut. Tradisi itu bernama Kirab Pager Banyu yang sudah berlangsung selama lima tahun terakhir.
Warga tampak menyusuri jalan setapak dengan berjalan kaki di tengah hutan sepanjang 1 kilometer.
Meski sempat diguyur hujan gerimis, tetapi warga antusias untuk menuju daerah yang masuk dalam kawasan Kampung Siluman.
Kampung Siluman dikenal sebagai kampung yang hilang karena tersapu dahsyatnya letusan Gunung Merapi pada 1930.
Terletak sekira 5 Km dari puncak Merapi dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (MPDL).
Kini wilayahnya dipenuhi hutan pinus yang menutup sisa-sisa peninggalan yang pernah ada.
Selama perjalanan, warga yang melakukan kirab melantunkan mantra yang diiringi alat musik tradisional.
Mantra tersebut ”Berbunyi Pring rajeg pring mageri banyu bening, ngadahi kang peparing angguripi kang anyanding”.
Melalui mantra tersebut, hendak memberikan pesan bahwa menanam bambu bisa menangkap dan menyimpan air. Tentunya juga menghidupi serta bagi masyarakat setempat.
Seusai sampai di Kali Putih, terdapat lima bibit pohon yang berdekatan dengan sumber air di tengah hutan tersebut.
Terdiri dari bibit pohon ficus yang dilaksanakan oleh warga dan petugas dari TNGM. Sedangkan untuk gunungan hasil bumi dibagikan kepada warga untuk disantap secara bersama-sama sambil menyaksikan penampilan tari dan kuda lumping dari anak-anak setempat.
Ketua RT 16 Jenarto mengungkapkan, tradisi ini setiap 1 Suro. Melalui tradisi tersebut hendak memberikan pesan kepada warga dan generasi muda terkait pentingnya menjaga kelestarian hutan.
”Kami mempunyai cita-cita mengembalikan tanaman endemik Merapi di kawasan hutan. Sementara kan ada banyak tanaman yang bukan endemik di sini (lereng Merapi),” ujar Jenarto.
Lebih lanjut, pilihannya menanam bibit pohon ficus dikarenakan tidak mempunyai nilai ekonomi. Sehingga kemungkinan warga tidak melakukan penebangan untuk dimanfaatkan. Alasan kedua, tanaman tersebut bagus untuk resapan air.
Sementara itu, Petugas Keamanan TNGM Sarjino mengapresiasi kegiatan tersebut. Penghijaun di atas Kampung Siluman juga sudah dilakukan oleh TNGM dengan menanam 3.000 bibit pohon bersama warga.
”Bekas Kampung Siluman ini yang masih utuh pasca erupsi Merapi 2010. Maka dengan kegiatan ini, semoga hutan pinus yang masih tersisa tetap dapat Lestari,” ujar Sarjino. (ren/adi)
Editor : Adi Pras