Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mitos Punden Tanjungsari Dlimas Ceper Klaten, Konon Ada Dua Sosok Putri Kerajaan Mataram Tak Kasat Mata

Angga Purenda • Jumat, 18 Juli 2025 | 23:49 WIB
Punden di Dusun Tanjungsari, Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Punden di Dusun Tanjungsari, Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Tradisi grebeg suro di Dusun Tanjungsari di Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten telah berlangsung beberapa waktu lalu.

Tapi siapa sangka tradisi tersebut telah berlangsung sejak ratusan tahun silam hingga menyakini ada dua sosok putri Kerajaan Mataram yang tak kasat mata.

Tradisi itu memang digelar warga setempat setiap kali memasuki bulan suro. Tepatnya setelah tanggal 8 suro pada Jumat Wage atau Kliwon.

Tradisi itu diyakini berkembang dari cerita rakyat terkait wabah yang pernah terjadi.

Sekretaris Desa (Sekdes) Dlimas Irene Galuh Kusumaningrum menjelaskan, tradisi tersebut diperkirakan sudah berlangsung sejak abad ke-18 atau 19. Hal itu berasal dari cerita lisan yang telah diwariskan secara turun temurun.

”Dahulunya Dusun Tanjungsari ini hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Selebihnya hanya berupa hutan belantara saja. Dahulunya dipimpin oleh seorang lurah bernama Ki Demang Rawatmejo,” ujar Galuh saat ditemui Radarsolo.com beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Galuh menceritakan, saat itu terjadi pagebluk hingga membuat banyak warga yang meninggal dunia secara mendadak. Apalagi asal usul gejala hingga penyebabnya tidak diketahui saat itu.

”Jadi banyak warga itu, ibaratnya malam tidak mengalami apa-apa, tapi keesokannya meninggal dunia. Jadi mungkin seperti ada wabah saat itu,” cerita Galuh.

Atas kondisi warganya itu, Ki Demang Rawatmejo lantas bertapa untuk meminta petunjuk.

Dalam pertapaannya, pihaknya didatangi oleh dua sosok putri yang kemudian dikenal dengan nama Rara Putri Tanjungsari dan Rara Payung Gilap.

Pada pertapaannya itu, Ki Demang kemudian mendapatkan semacam wangsit dari dua putri tersebut untuk menggelar doa. Seperti kenduri dan memohon keselamatan.

”Akhirnya Ki Demang mengadakan itu. Setelah mendapatkan wangsit atau penglihatan itu dia melaksanakan kegiatan doa bersama kenduren. Untuk istilahnya meminta kepada Gusti supados wabah itu bisa berhenti,” ujar Galur.

Setelah hal itu dilakukan, konon, pagebluk yang terjadi di desa tidak ada lagi. Warga Tanjungsari pun diberikan keselamatan.

Sejak saat itulah, warga secara rutin menggelar Grebeg Suro yang dilestarikan sampai saat ini. Tentunya dengan berbagai pengembangan yang dikolaborasikan kegiatan budaya.

“Jadi ada kepercayaan jika itu memang sesuatu yang sudah menjadi warisan leluhur. Jadi harus diadakan setiap tahun di Jumat Wage atau Jumat Kliwon. Itu wetonnya Rara Putri Tanjungsari dan Rara Payung Gilap,” tambah Galuh.

Sosok kemunculan kedua putri itu kini diyakini sebagai pepunden atau tempat yang dihormati. Terlebih lagi menjadi asal usul penamaan dari kampung tersebut.

Sebagai penanda, kawasan yang kini menjadi lokasi Grebeg Suro itu ditanami pohon Tanjung. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #Kerajaan Mataram #Punden #ceper #suro #tradisi