Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Menguak Isi Prasasti  Gempa Klaten 1926, dan Penelusuran Kejadiannya: Cerobong Pabrik Gula Hancur, Pasar Malioboro Rusak, dan Rumah Porak Poranda

Niko auglandy • Minggu, 20 Juli 2025 | 19:40 WIB
Pabrik Gula Ceper di era jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pabrik Gula Ceper di era jauh sebelum Indonesia merdeka.

RADARSOLO.COM - Gempa bumi besar pernah mengguncang wilayah Klaten 99 tahun silam, tepatnya pada 10 September 1926.

Peristiwa ini ternyata sempat menimbulkan kepanikan di kawasan Solo Raya hingga Jogjakarta, jauh sebelum gempa besar yang terjadi pada 27 Mei 2006.

Kisah gempa 1926 itu kembali mencuat setelah ditemukannya sebuah prasasti tua di Kecamatan Ceper, Klaten, pada 2022 lalu.

Prasasti tersebut ditemukan oleh warga di sekitar Pabrik Gula Ceper.

Terbuat dari batu marmer putih, prasasti itu kini dalam kondisi tidak utuh karena telah pecah. Ukurannya sekitar 40x50 cm dengan ketebalan 1,5 cm.

Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Belanda.

Meski hanya berupa penggalan kalimat, makna dari isi tulisannya masih bisa ditangkap dengan jelas. Tertulis:

"AARDBEVING 1926 DES N.M.5.55: TEENEN ZOODANIG BESCHADIGD, DAT: PATEUR W. DE MAN J.TH. VÁN OYEN B.N.A. OT HERBOUW IN GEWAPEND BETON. DE UITVOERING DOOR DE MAKEN VAN WERKEN IN GEWAPEND BETON: 1926-APRIL 1927,".

Jika diterjemahkan, bunyi kalimat itu adalah:

"Gempa Bumi 1926 pada N.M. 5.55. sedemikian rupa rusak, sehingga... pembangun/perancang W. de Man J.Th. van Oyen B.N.A. Dibangun kembali dengan beton bertulang. Pelaksanaan pekerjaan dengan menggunakan beton bertulang 1926–APRIL 1927,".

Redaktur Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy menelusuri arsip surat kabar lawas untuk mengungkap kisahnya lebih dalam.

Akhirnya ditemukan informasi yang lebih lengkap tentang kisah yang dicatat dalam prasasti tersebut.

Surat kabar berbahasa Belanda, De Locomotief terbitan 26 Agustus 1927, memuat berita mengenai peresmian prasasti tersebut.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa pada 25 Agustus 1927, digelar sebuah acara singkat di Ceper untuk meresmikan plakat marmer peringatan gempa.

Prasasti tersebut ditanam di salah satu cerobong asap terkenal milik pabrik, yang baru saja selesai dibangun kembali.

"Beberapa orang lagi yang hadir berbicara (beri sambutan, Red). Anggur bersoda diedarkan, sirene meraung-raung, dan semua orang tetap bersama dengan ramah untuk beberapa saat," tulis De Locomotief yang menggambarkan suasana peresmian prasasti tersebut.

Peristiwa gempa yang dikenang melalui prasasti itu terjadi pada 10 September 1926, tepat pukul 5.55 (koran De Avondpost terbitan 12 Oktober 1926 mencatat waktu gempa terjadi pukul 17.55).

Gempa ini menyebabkan cerobong asap dari bata merah mengalami kerusakan parah.

Menanggapi kondisi itu, administrator pabrik, W. de Man, menugaskan arsitek J. Th. van Oyen B.N.A. untuk membangun ulang cerobong tersebut dengan material beton bertulang.

Pekerjaan konstruksi kemudian dilakukan oleh Hollandsche Beton Maatschappij (Perusahaan Beton Belanda) mulai Oktober 1926 hingga April 1927.

Batu prasasti tersebut diresmikan oleh agen Perusahaan Dagang Belanda di Semarang, Tuan M. H. Woutman, yang mewakili Perusahaan Budaya Tjepper.

Administrator W. de Man dalam sambutannya memaparkan latar belakang bencana dan proses pembangunan ulang.

Ia menyampaikan penghormatan kepada Nederlandsche Handel Mij., arsitek J. Th. van Oyen, serta Hollandsche Beton Maatschappij atas desain, pelaksanaan konstruksi, dan kerja sama yang baik dengan karyawan pabrik, khususnya masinis bernama Broks.

Penelusuran terhadap koran-koran lawas terbitan 1926 mengungkapkan betapa dahsyatnya gempa bumi yang mengguncang Klaten dan sekitarnya.

De Avondpost melaporkan, hasil observatorium mencatat tremor kuat terjadi pada pukul 17.55 dan berlangsung selama 38 detik.

Beberapa gempa susulan menyusul kemudian. Tremor terus terpantau hingga pukul 19.00.

Menurut dugaan ahli saat itu, pusat gempa tektonik ini berada sejauh 680 kilometer dari titik pengamatan, atau sekitar 170 kilometer dari garis pantai selatan Pulau Jawa.

Di beberapa tempat, aliran listrik padam total, sehingga warga terjebak dalam gelap gulita.

Peristiwa ini bukan hanya menyebabkan kepanikan, tetapi juga kerusakan fisik yang masif di sejumlah wilayah di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Surat kabar berbahasa Belanda Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch Indië edisi 8 Oktober 1926 menggambarkan skala kerusakan yang terjadi akibat gempa ini, terutama pada sektor industri cukup besar

Dua cerobong asap milik Pabrik Gula Ceper dilaporkan mengalami kerusakan parah. Saking parahnya, perbaikan cerobong dianggap mustahil dilakukan.

Akhirnya, diputuskan untuk merobohkan cerobong lama dan menggantinya dengan cerobong baru yang terbuat dari beton bertulang.

"Pembongkaran dan pembangunan baru ini menghabiskan biaya setengah ton emas. Kami juga mengetahui bahwa manajemen proyek telah dipercayakan kepada Bapak Van Oyen (asal Semarang)," tulis Algemeen Handelsblad.

Sementara itu, koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 7 Oktober 1926 turut melaporkan skala kerusakan yang terjadi akibat gempa, khususnya di wilayah Jogja.

Pabrik Gula Sewoe Galoor, misalnya, mengalami keretakan parah pada cerobong asap, terutama di bagian pangkal.

Atap pelana rumah administrasi pabrik juga mengalami kerusakan berat.

Di Pabrik Gula Rewoeloe, bagian atas cerobong asap harus diganti sepenuhnya. Beberapa rumah karyawan bahkan sudah dalam proses pembongkaran karena rusak berat.

Situasi serupa juga terjadi di Pabrik Gula Demak Ijo. Bangunan pabrik dan gudang di lokasi tersebut mengalami retakan serius, sehingga berpotensi membahayakan keselamatan.

Di kawasan Barongan, atap pelana pabrik harus dihancurkan sebagai langkah antisipasi lebih lanjut.

Koran Nieuwsblad van het Noorden edisi 11 Oktober 1926 mengabarkan melumpuhkan terjadi wilayah di Jateng hingga Jogja.

Getaran hebat tersebut bahkan merusak bangunan ikonik di kawasan Malioboro.

Apotek Rathkamp yang berada di pusat Pasar Malioboro mengalami kerusakan serius. Begitu pula dengan toko Koo Lie, yang dindingnya retak-retak akibat guncangan.

Tak hanya bangunan, barang-barang di dalam rumah pun ikut menjadi korban. Rak-rak jatuh berantakan, jam-jam dinding berhenti berdetak, dan jendela-jendela bergerak seperti lemari yang membentur tembok.

Di kawasan Gondokusuman, situasi bahkan lebih mencengangkan. Sebuah bufet besar terjungkal hingga terbalik.

Seorang perempuan di Pabrik Padokana mengira awalnya tanah berguncang akibat kereta api buluh yang lewat.

Namun setelah sadar itu gempa bumi, dia mencoba keluar dari ruangan.

Sayangnya, pintu tempat dia berada macet dan tak bisa dibuka, memaksanya tetap di dalam ruangan yang berguncang hebat.

Di Solo, Pabrik Manishardjo dilaporkan mengalami kerusakan serius. Salah satu tembok rumah warga bahkan dilaporkan roboh akibat gempa tersebut.

Catatan koran lawas ini menambah validasi bahwa gempa bumi 1926 merupakan bencana besar yang melampaui skala lokal, dan tercatat dalam dokumen sejarah kolonial sebagai salah satu gempa terburuk yang melanda wilayah Jawa saat itu. (*)

 

Editor : Niko auglandy
#klaten #gempa bumi