RADARSOLO.COM - Tradisi sebaran apem Yaa Qowiyyu kembali digelar, kemarin siang (8/8).
Sebanyak 54.100 biji apem ludes direbut ribuan warga yang berjubel di Lapangan Klampeyan, Kelurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom.
Ketua Dewan Pembina Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG) Daryanto mengawali prosesi sebaran apem. Dia yang menjadi tokoh Ki Ageng Gribig dengan dua gunungan apem yang dikirab dibelakangnya.
Tradisi tersebut dihadiri langsung oleh Anggota DPR RI Ravindra Airlangga, yang merupakan anak dari Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto masih memiliki garis keturunan Kiai Ageng Gribig.
Tampak pula Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto, dan Forkopimda Klaten hadir dalam tradisi tahunnya itu. Mereka ikut menyebar apem kepada masyarakat dari atas amfiteater.
Kemudian sebaran apem dilanjutkan oleh panitia dari atas menara di Lapangan Klampeyan tersebut. Ribuan warga pun berebut untuk mendapatkan apem yang disebar tersebut.
Mereka memiliki keyakinan akan mendapatkan berkah dari apem yang sebelumnya dikirab dan didoakan tersebut.
Apem yang disebar dan direbutkan oleh pengunjung itu merupakan hasil sedekah warga dari berbagai daerah. Tak hanya dari Jatinom, Klaten dan sekitarnya. Tetapi juga Solo, Boyolali, Semarang, Wonogiri, hingga Ngawi.
"Ini bukan hanya sekadar sebuah tradisi menyebarkan apem saja. Tapi sarat akan nilai yang sangat luhur. Tentu saja kegiatan ini harus kita lestarikan bersama agar generasi penerus kita masih bisa menikmati," ujar Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Jumat (8/8).
Lebih lanjut, Hamenang mengungkapkan, apem tidak hanya menjadi makanan tradisional khas Jatinom. Tetapi spirit pada apem di masa lalu untuk bisa saling memaafkan agar kemudian bisa saling bertoleransi dan kerukunan terjaga, khususnya di Klaten.
"Tentu saja kami berdoa bersama semoga dalam rangka perayaan Yaa Qowiyyu tahun ini, bapak-ibu yang hadir sekalian diberi kemudahan dalam rangka mencari rezeki. Terakhir, tentu barangkali ada yang belum memiliki pasangan atau jodoh semoga disegerakan mendapatkan jodoh," ujar Hamenang.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina P3KAG Daryanto menjelaskan, kue apem secara fisik merupakan makanan tradisional yang enak disantap. Tetapi juga menjadi media dakwah bagi Ki Ageng Gribig yang pulang dari Mekkah dan kemudian mengumpulkan para santri dalam satu majelis.
“Kemudian beliau memberikan wejangan-wejangan. Diantaranya mengingatkan pada manusia atau murid-muridnya bahwa orang hidup ini Adalah banyak salah. Kiai Ageng Gribig selalu mengingatkan ayo kita segera meminta maaf kepada yang memberi maaf yaitu Allah, itu Al Afuww. Lalu mucul kalimat yang pendek yakni Ya Afuwwun," ujar Daryanto.
Lebih lanjut, Daryanto mengungkapkan, berdasarkan perhitungan dari P3KAG bahwa pada 2025 ini, tradisi sebaran apem sudah berjalan selama 406 tahun. Hal itu ada dalam catatan Ratu Suci Tataning Jagat 1.541 saka atau jika dikonversikan dalam tahun masehi yakni 1619.
“Jadi kurang lebihnya sudah 406 tahun. Jadi ini tidak pernah putus. Walaupun kondisi pada Covid-19 tetap berjalan namun sangat terbatas. Tradisi tetap kuat,” ujar Daryanto.
Salah seorang pengunjung asal Tulung, Klaten Budiwati, 65, mengaku ikut menyedekahkan kue apem dalam tradisi sebaran apem Yaa Qowiyyu tersebut. Termasuk ikut juga merebutkan apem yang disebar.
"Saya sedekah kue apem ini biar barokah dan diberikan keselamatan. Biar keluarga juga selalu sehat," ujar Budiwati.
Lebih lanjut, Budiwati mengungkapkan kegiatan sedekah dan berebut apem dalam tradisi tersebut sudah dilakoni puluhan tahun. Terlebih lagi sudah turun temurun dijalani oleh keluarga besarnya.
"Rencananya apem yang saya dapatkan ini mau saya makan bersama keluarga. Begitu juga sebagian akan saya tanam di lahan pertanian. Harapannya tanahnya semakin subur," ujar Budiwati.
Sementara itu, pengunjung lainnya, Mustakim, 65, asal Semarang mengungkapkan juga ikut bersedekah apem. Begitu juga merebutkan apem yang disebar. "Saya datang bersama tiga orang lainnya dari Semarang. Setiap tahun memang datang ke sini. Melestarikan tradisi dari Kiai Ageng Gribig," ujar Mustakim.
Lebih lanjut, Mustakim berharap mendapatkan keberkahan dari tradisi yang diikutinya tersebut. (ren/nik)
Editor : Niko auglandy