RADARSOLO.COM – Petani di Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, Klaten mulai mengembangkan pupuk organik dari limbah pengelolaan susu.
Diproduksi oleh Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) Rejeki Subur dengan memanfaatkan limbah yang dihasilkan oleh PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Plant Prambanan) dari arang sekam dan sludge yang bentuknya menyerupai lumpur.
Ketua Gapoktan Rejeki Subur Desa Sanggrahan Sadeni menjelaskan lahan tanaman padi yang menggunakan pupuk organik berupa sludge pada lahan seluas sekira 7.500 meter persegi.
Terbagi dalam tiga patok dengan tanaman padi varietas inpari 43 yang perdana dilaksanakan panen raya.
”Kami mendapatkan pendampingan dari Gita Pertiwi dan ini merupakan program dari PT SGM baru 2024. Kalau dilihat dari hasilnya untuk pertama kali di sini saya amati yakni jagung cukup bagus. Sedangkan untuk yang panen kedua berupa padi ini baru panen,” ujar Sadeni, ditemui seusai panen raya di Desa Sanggrahan, Prambanan, Klaten, Selasa (12/8/2025).
Lebih lanjut, Sadeni menjelaskan, meski belum bisa melakukan perhitungan atas produksi dihasilkan dari tanaman padi yang menggunakan pupuk organik tersebut tetapi dari pengamatan struktur tanahnya lebih subur. Terlebih lagi tanahnya lebihnya gembur sehingga mudah dalam pengolahan tanahnya.
”Perkembangan tanamaannya juga bagus. Tapi ini bukan murni pupuk organik lho ya. Baru semi organik, kami perlahan-lahan mengurangi penggunaan pupuk kimia,” ujar Sadeni.
Sadeni mengaku, sejak menggunakan pupuk organik berupa sludge itu menjadikan tanaman tidak di serang oleh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Termasuk hama penggerek batang padi pun juga tidak menyerang tanaman padinya.
Dia pun berharap pengembangan pupuk organik dari limbah pengelolaan susu itu terus berlanjut. Terlebih lagi mampu menghembat biaya yang harus dikelurakan untuk pemupukan lahan pertaniannya.
Sementara itu, Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Tengah Soeharsono mengungkapkan bahwa PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Plant Prambanan) memiliki limbah yang bentuknya menyerupai lumpur. Begitu juga arang sekam sebagai bahan untuk pembuatan pupuk organik.
”Jadi kombinasi antara arang sekam yang dihasil dari proses pembakaran sekam untuk energi dengan sludge yang bentuknya seperti lumpur bisa menjadi sebuah produk yang bagus fungsinya. Untuk pembenahan tanah karena itu ada arang sekamnya dan juga mengandung unsur makro, NPK dan mikro. Ada juga Zn, Fe dan lain-lain,” jelasnya.
Soeharsono menyebut proses pembuatan pupuk organik dari limbah pengelolaan susu itu sudah berlangsung sejak 2023/2024 berkolaborasi dengan PT SGM dan Gita Pertiwi.
”Kebetulan kami ada laboratorium, analisis mutu pupuk, uji efektivitasnya, punya teknologi dan kebun. Jadi kami lakukan penelitian hingga diterapkan di tingkat lapang hingga diformulasikan menjadi pupuk organik,” ujar Soeharsono.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan DKPP Klaten Lilik Nugraharjo mengapresiasi atas inovasi pupuk organik dengan bahan utama dari limbah pengelolaan susu tersebut.
”Dari pencampuran sludge dan arang sekam menjadi pupuk organik. Artinya semua bahan bisa dimanfaatkan. Tentunya kami bangga, karena banyak pilihan bahan untuk membuat pupuk organik,” ujar Lilik. (ren/adi)
Editor : Adi Pras