RADARSOLO.COM – Kasus leptospirosis tengah menjadi perhatian dari jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten.
Mengingat sepanjang Januari-Juli 2025 sudah terdapat 97 kasus dengan 18 orang di antaranya meninggal dunia.
Berdasarkan data dinkes, sebaran kasus terjadi di 25 kecamatan di Klaten kecuali Juwiring. Terbanyak ada di Kecamatan Wedi sebanyak 14 kasus.
Kasus leptospirosis menimpa sebanyak 74 orang laki-laki (76,29 persen) dan perempuan sebanyak 23 orang (23,71 persen).
Mereka sebagian besar beraktivitas di area persawahan baik sebagai petani maupun buruh tani.
Jika terbagi dalam kelompok umur, usia 19-59 tahun sebanyak 61 kasus (62,9 persen). Sedangkan mereka yang berusia 60 tahun ke atas sebanyak 36 orang (37,1 persen)
Dibandingkan dengan tahun 2024, total ada 37 kasus leptospirosis dengan sembilan orang meninggal dunia.
Hal itu menjadikan kondisi hingga Juli 2025 sudah menjauh melampaui kumulatif 2024.
”Memang sudah menjadi pembicaraan serius. Tapi sudah dua minggu ini tidak ada laporan yang masuk,” ujar Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto, Rabu (13/8/2025).
Lebih lanjut, Anggit mengungkapkan, meski tidak ada laporan kasus baru dari rumah sakit, tetapi dinkes terus mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut.
Yakni mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat terkait pencegahan agar tidak terkena leptospirosis.
Dia menilai, tidak ada penambahan kasus selama dua minggu terakhir mengindikasikan kesadaran masyarakat sudah terbangun.
Terutama upayanya dalam melindungi diri saat beraktivitas di luar sehingga tidak terpapar penyakit tersebut.
”Leptospirosis ini adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang dibawa vektor tikus lewatnya kencingnya. Bisa bertahan hidup lebih dari enam bulan pada tanah yang becek,” ujar Anggit. (ren/adi)
Editor : Adi Pras