RADARSOLO.COM - Pemerintah Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko, Klaten menyulap lahan rawa menjadi produktif.
Bahkan memanfaatkan material disposal atau tanah buangan hasil galian konstruksi proyek jalan tol yang melintasi wilayah desa setempat sebagai tanah uruk sehingga bisa ditanami lagi.
Kepala Desa Demakijo Ery Karyatno mengungkapkan, lahan yang berdekatan dengan ruas Jalan Tol Solo-Jogja itu tidak bisa ditanami. Mengingat lahan seluas 2,5 hektare itu sering terendam air seperti rawa.
“Akhirnya kami minta agar lahan itu bisa diuruk dengan ketinggian sekira 30 cm. Setelah diuruk, lahan dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok petani milenial Desa Demakijo untuk budidaya benih melon,” ujar Ery, beberapa waktu lalu.
Ada pun lahan yang digunakan untuk budidaya benih melon itu berada di lahan seluas 7.000 meter persegi.
Hanya fokus pada pembenihan saja yang saat ini sudah dikerjasamakan dengan perusahaan guna menampung biji melon yang dikelola oleh petani milenial.
Ery menyebut jika total anggota kelompok petani milenial di Desa Demakijo sendiri mencapai 22 orang.
Mereka rata-rata berusia sekira 20-35 tahun yang telah eksis pada kelompok tersebut sejak beberapa tahun terakhir.
“Kami selalu memotivasi bahwa petani ini adalah profesi. Kalau bertani dengan benar dan sesuai mekanismenya maka penghasilannya tidak kalah dengan yang bekerja di pabrik atau sektor usaha lainnya. Alhamdulillah sudah banyak anak-anak muda yang terjun ke dunia pertanian,” ujar Ery.
Di sisi lain, sebagain lahan lainnya kini juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pusat pelatihan pertanian dan pedesaan swadaya (P4S) untuk menanam semangka tanpa biji.
Lahan itu memiliki luas sekira 5.000 meter persegi yang mendapatkan bimbingan langsung dari anggota kelompok petani milenial Desa Demakijo.
Sedangkan lahan seluas 0,5 hektare dimanfaatkan khusus untuk menanam padi rojolele varietas Srinuk.
Dia pun memastikan lahan pertanian yang ada di desanya itu akan dimanfaatkan secara maksimal.
“Semua hasil produksi pertanian di lahan itu pasti ada pendapatannya. Dari benih hingga hasil produksi, kami sudah ada pasarnya. Termasuk hasil produksi semangka, meski lahannya digunakan untuk pelatihan P4S tapi ketika sudah panen tetap ada pasarnya,” tambah Ery.
Ery mencontohan, untuk pembelian benih melon yang dibeli per gram saat panen pertama lalu mampun mendapatkan penghasilan Rp 2-3 juta per bulan.
Salah satu anggota Kelompok Petani Milenial Desa Demakijo Intandi, 32, mengungkapkan lahan yang dikelola mencapai hampir 1 hektare. Termasuk dimanfaatkan untuk produksi benih melon.
“Saat panen pertama mendapatkan sekira 30 Kg benih biji melon. Untuk nilai jualnya bisa mencapai angka Rp 80 juta. Tapi untuk biaya operasional dan perawatan tanaman melon menjadi benih juga tinggi juga,” tambah Intandi.
Sementara itu, Intandi menjelaskan, lahan yang ditanami semangka tanpa biji untuk pelatihan P4S menggunakan sistem irigasi tetes. Yakni memanfaatkan pompa dan selang untuk menyalurkan air langsung ke masing-masing tanaman.
“Karena kontur tanahnya ada di atas sungai, jadi lebih efektif menggunakan sistem irigasi tetes. Sekaligus menjadi prototipe untuk dikembangkan di lahan pertanian yang sungainya berada di bawah atau tidak ada irigasi konvensional semisal parit dan sungai,” ujar Intandi. (ren/adi)
Editor : Adi Pras