RADARSOLO.COM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Klaten masih terus terjadi sampai saat ini.
Meski mengalami penurunan, tetapi tetap menjadi perhatian dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten.
Data Dinkes Klaten hingga minggu ke 35 tahun ini tercatat 444 kasus DBD dengan tiga kematian.
Dibandingkan periode sama tahun lalu alami penurunan, yakni 1.007 kasus dengan 31 kematian.
Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto menjelaskan, angka ksus kematian akibat DBD masih bisa dikendalikan. Meski begitu, pihaknya tetap mengimbau masyarakat melakukan PSN.
”Soalnya kunci utama dari pemutusan kasus demam berdarah itu pemberantasan sarang nyamuk. Jadi perlu dilakukan upaya pembersihan di tempat penampungan (air) yang tidak kita sadari,” ujar Anggit, Rabu (10/9/2025)
Anggit menjelaskan, upaya pencegahan kasus DBD perlu dilakukan di tengah cuaca yang tidak menentu.
Hujan yang tidak merata di sejumlah daerah menjadikan beberapa lokasi terdapat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
”Misalnya di tong-tong, di tempat-tempat bekas minuman. Bisa juga disaluran air pada rumah yang harus dibersihkan,” ujar Anggit.
Dia meminta masyarakat terus menggiatkan kembali PSN. Bisa dimulai dari lingkungan rumah masing-masing hingga bangunan di sekitarnya yang kurang menjadi perhatian. Terutama adanya potensi sarang nyamuk yang perlu dilakukan pembersihan.
Di sisi lain, pihaknya juga mendorong tim juru pemantau jentik (jumantik) aktif melakukan pemeriksaan terhadap bak penampungan air bersih.
Hal itu untuk memastikan tidak ada jentik-jentik nyamuk dari Aedes Aegypti.
”Utamanya pada rumah-rumah kosong yang juga perlu menjadi perhatian bersama. Termasuk tempat-tempat umum hingga tempat ibadah juga ikut dibersihkan,” ujar Anggit.
Di sisi lain, masyarakat perlu mengenali gejala agar tidak terlambat dalam penanganan ketika terkena DBD.
Salah satunya jika mengalami demam tinggi selama dua hari berturut-turut untuk segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat.
”Apa pun penyebab demamnya, jangan meremehkan. Untuk segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan sehingga tidak terlambat dalam penanganan,” ujar Anggit. (ren/adi)
Editor : Adi Pras