Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jadi Pusat Wisata Edukasi Pertanian di Klaten, Omah Rojolele Mampu Gerakan Perekonomian Delanggu

Angga Purenda • Minggu, 14 September 2025 | 02:10 WIB
Pengunjung saat melihat berbagai koleksi di Museum Omah Rojolele, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Pengunjung saat melihat berbagai koleksi di Museum Omah Rojolele, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Sebuah rumah limasan di Dusun Kaibon, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten telah menjadi pusat wisata edukasi pertanian.

Bernama Omah Rojolele yang mengusung konsep living museum. Keberadaannya telah mampu menggerakan perekonomian desa setempat.

Lokasi yang dimanfaatkan sebagai museum merupakan rumah warga setempat yang dipinjamkan untuk ruang pergerakan petani di Delanggu sejak 2016. Terutama para kelompok tani di Delanggu yang aktif di Sanggar Rojolele.

Museum yang dikelola oleh Sanggar Rojolele Delanggu selama satu tahun terakhir itu mampu menarik kunjungan wisatawan setiap bulannya dari berbagai daerah.

Dikarenakan menghadirkan sejarah Delanggu yang dikenal dengan sentra beras rojolele serta proses pertanian di desa setempat.

”Setelah diluncurkan pada tahun lalu, sepanjang tahun setiap bulan minimal terdapat tiga sampai empat kali kunjungan. Dari perguruan tinggi, sekolah hingga kelompok tani,” ujar Ketua Sanggar Rojolele Delanggu Eksan Hartanto saat ditemui Radarsolo.com, beberapa waktu lalu.

Museum yang hanya 10 menit dari exit tol Polanharjo ini memamerkan berbagai peralatan pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, perawatan, panen dan memasak nasi tempo dulu.

Seperti luku yang biasanya digunakan untuk membajak sawah dengan bantuan tenaga kerbau. Begitu juga cangkul besar, pasangan, gathul dan garu.

Pada Omah Rojolele, wisatawan bisa melihat lebih dekat berupa barang seperti nampan bibit, caping dan gosrok.

Lalu menampilkan alat peralatan perawatan seperti semprotan, gosrok, arit, keplok dan klenthong. Termasuk melihat alat panen seperti ani-ani, geprok dan tatakan gepyok.

Lalu ada karung goni, sorokan gabah, lumping dan alu. Ada juga alat memasak nasi seperti tampah, tumbu, gentong, dandang, kukusan dan anglo. Wisatawan juga diajak turun ke lahan persawahan untuk pengenalan segala aktivitas petani.

”Untuk pelajar paketnya mulai Rp 15.000 per peserta. Tetapi jika menginginkan paket workshop olah pangan lokal, untuk paket harganya Rp 25.000 per peserta. Kita buka untuk pelajar, yayasan, lembaga, kelompok tani hingga teman-teman penelitian,” ujar Eksan.

Eksan menyebut, dalam sebulan kunjungan ke Omah Rojolele bisa mencapai 400-500 orang per bulan.

Jumlah kunjungan wisatawan menurun hanya saat bulan puasa saja. Selebihnya, kunjungan wisatawan ke Omah Rojolele selalu ada.

Kunjungan semakin terdongkrak setelah adanya imbau dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah agar kegiatan studi tiru hingga tur wisata dilaksanakan di dalam kabupaten.

”Itu mendukung upaya dan menjadi daya ungkit perekonomian berbasis industri kreatif seperti Delanggu,” ujar Eksan.

Di sisi lain, setiap tahunnya Desa Delanggu juga jadi perhatian pengunjung dari berbagai daerah.

Terutama saat rangkaian Festival Mbok Sri digelar di desa setempat yang diramaikan dengan berbagai kegiatan yang menyuarakan berbagai isu pertanian. Terakhir, digelar pada 5-7 September 2025.

Kedepan pengembangan wisata di Delanggu terus dimaksimalkan. Salah satunya hendak merancang paket wisata cycling tour antara Delanggu dengan kawasan sentra industri pande besi Koripan. Diharapkan bisa mengangkat berbagai potensi desanya masing-masing.

”Seperti Desa Kranggan, Polanharjo yang masuk kawasan sentra industri pande besik Koripan yang memiliki kuliner khas berupa opor bebek. Sedangkan Delanggu sendiri dikenal dengan soto garingan hingga nasi wiwit,” ujar Eksan. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#rumah limasan #klaten #rojolele #museum #delanggu #Polanharjo