Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pengendalian Hama Tikus Lewat Sistem TBS di Klaten Dinilai Efektif, Bakal Diterapkan Masif di 2026

Angga Purenda • Selasa, 23 September 2025 | 00:47 WIB
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo saat meninjau lahan pertanian yang menggunakan sistem TBS di Desa Jurangjero, Kecamatan Karanganom, Klaten beberapa waktu lalu. (Angga Purenda/Radar Solo)
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo saat meninjau lahan pertanian yang menggunakan sistem TBS di Desa Jurangjero, Kecamatan Karanganom, Klaten beberapa waktu lalu. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menilai pengendalian hama tikus dengan menggunakan sistem Trap Barrier Sytem (TBS) lebih efektif.

Dia pun merencanakan untuk menerapkan sistem tersebut di sejumlah lahan pertanian pada 2026.

Rencana itu muncul setelah Hamenang meninjau lahan pertanian yang menggunakan sistem TBS di Desa Jurangjero, Kecamatan Karanganom beberapa waktu lalu.

Dalam tinjaun itu, Hamenang yang didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten Iwan Kurniawan melihat lebih dekat penerapan sistem TBS tersebut.

Menurutnya, diperlukan inovasi dalam pengendalian hama tikus agar hasil pertanian menjadi lebih optimal.

Terlebih lagi serangan hama tikus sering kali dikeluhkan petani setiap kali kegiatan Sambung Rasa disejumlah daerah.

”TBS jauh lebih efektif dibanding gropyokan. Ini tidak perlu banyak orang, cukup pasang pagar fiber di jalur masuk untuk setiap 10 meter,” ujar Hamenang beberapa waktu lalu.

Untuk setiap jalur masuk dilengkapi dengan satu kotak perangkap. Dalam satu perangkap itu bisa menangkap 30-40 ekor tikus per hari.

Seperti di Desa Jurangjero yang tahun lalu sempat gagal panen, tapi kini sudah bisa panen lagi setelah dipasang TBS tersebut.

Pihaknya pun bakal menduplikasi dan memperluas penggunaan sistem TBS di Klaten. Mulai tahun depan melalui anggaran khusus yang dikelola DKPP Klaten.

”Ini sudah terbukti efektif. Ke depan akan kota sebarkan lebih masif,” ujar Hamenang.

Hamenang mengungkapkan, penerapan sistem TBS di lahan pertanian bukan pertama kali di Klaten. Sudah di beberapa lokasi dilakukan uji coba tetapi belum masif sehingga akan diperbanyak pada 2026.

”Untuk daerah yang rawan serangan hama tikus di seluruh kecamatan di Klaten. Hanya saja serangan itu terjadi tidak dalam satu wilayah desa. Tetapi di beberapa titik lokasi saja," ujar Hamenang.

Sementara itu, Kepala DKPP Klaten Iwan Kurniawan menjelaskan untuk pemasangan TBS berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta per patok. Tergantu bahan yang akan dipasang dalam sistem TBS tersebut.

”Kalau untuk 1 hektare lahan pertanian, kebutuhan biaya diperkirakan Rp 3,5 juta sampai Rp 4 juta,” ucapnya.

Lebih lanjut, Iwan menjelaskan, pemasangan TBS tidak harus melingkari seluruh lahan pertanian yang hendak dilindungi dari serangan hama tikus. Cukup pada jalur masuk aktif tikus selama ini dengan tambahan umpan.

”Untuk bubu juga bisa dibuat sederhana, dengan memanfaatkan galon bekas agar lebih hemat,” tambah Iwan. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#karanganom #klaten #Hama Tikus #tbs #Trap Barrier System #pertanian #Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo