RADARSOLO.COM - Sebanyak 23 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Klaten telah beroperasi hingga saat ini.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten pun mengantisipasi agar siswa tidak keracunan setelah menyantap menu makanan yang disediakan tersebut.
Untuk saat ini sebaran dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) berada di Kecamatan Wonosari, Delanggu, Polanharjo, Ceper dan Cawas.
Begitu juga di Kecamatan Trucuk, Klaten Utara, Karanganom, Pedan, Karangdowo, Jogonalan, Wedi dan Gantiwarno.
Total melayani sebanyak 73.525 siswa dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK.
“Kita sebagai pemerintah daerah diwajibkan untuk memonitor apa yang menjadi menunya. Apa yang menjadi pelayanan dari masing-masing kabupaten penerima manfaat. Harapannya ke depan tidak ada kasus yang mungkin viral (keracunan) dan sebagainya,” ujar Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto saat ditemui di Pendapa Pemkab Klaten, Senin (22/9/2025).
Lebih lanjut, Benny menjelaskan, dikarenakan MBG merupakan program dari pemerintah pusat sehingga pemkab harus berperan aktif untuk menjaga kondusifitas untuk penyedia dan penerima manfaat.
“Saat ini Satgas sudah dibentuk secara bertahap. Termasuk melakukan ke penerima manfaat dan juga dapur-dapur secara bertahap,” ujar Benny.
Benny mengungkapkan, jika Satgas tersebut terdiri dari Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos dan P3APPKB) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten.
Kepala Disdik Klaten Titin Windiyarsih menjelaskan, untuk mencegah terjadinya keracunan saat dapur MBG beroperasi, kepala dapur wajib melaporkan ke Kodim 0723/Klaten dan disdik.
Setelah itu akan dikumpulkan berbagai pihak terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dinkes, Kantor Kemenag, Cabdin V Jawa Tengah.
Begitu juga Forkopimcam hingga lurah atau kepala desa (Kades) yang menjadi tempat dapur MBG berdiri.
“Jadi di situlah kesempatan untuk melakukan mitigasi semua risiko. Termasuk bagaimana dengan piring agar nyucinya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) harus seperti apa,” ujar Titin.
Di sisi lain, kepada kepala dapur dan ahli gizi diminta untuk membuat koordinator pegawai.di dapur MBG.
Terutama untuk koordinator terkait penyiapan bahan mentah, cuci piring hingga pengemasan makanan.
Termasuk nantinya juga ada pemantuan dan pelatihan dari dinkes untuk keamanan makannya.
“Tapi kami harapkan tidak ada kejadian di Klaten. Tapi yang jadi koordinator utama adalah Kodim Klaten yang menggandeng disdik. Kalau kami berharap para siswa penerima MBG tambah sehat dan pintar serta tidak ada kejadian apa-apa,” ujar Titin.
Titin pun memastikan, dalam melakukan pengawasan terhadap seluruh operasional dapur MBG di Klaten tetap berkoordinasi dengan Korwil Badan Gizi Nasional (BGN).
Harapannya seluruh SPPG yang telah beroperasi dapat dipantau secara optimal sehingga meminimalisir terjadinya kasus keracunan. (ren/adi)
Editor : Adi Pras