RADARSOLO.COM - Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Klaten menggelar Batik Klaten Minifest selama empat hari pada Kamis-Minggu (2-5/10/2025) di halaman kantor setempat. Dibuka langsung oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo yang bertepatan di momen Hari Batik Nasional.
Kegiatan tersebut melibatkan 30 perajin batik yang berasal dari sejumlah sentra yang ada di Kota Bersinar.
Seperti Kecamatan Bayat, Prambanan, Wedi dan Juwiring. Sebagai bentuk dukungan terhadap potensi unggulan Klaten tersebut.
Pada kesempatan itu, Bupati Hamenang sempat membatik pada kain putih sepanjang 2,5 meter.
Tampak Hamenang mengambil lilin malam cair dengan menggunakan canting yang terbuat dari tembaga dan bumbu sebagai pegangannya.
Mengikuti arahan dari salah satu perajin batik asal Bayat.
“Kalau biasanya orang mengenal batik Pekalongan, batik Solo dan Jogja. Klaten itu punya potensi (batik) yang luar biasa sehingga perlu dilestarikan. Termasuk memberdayakan para pelaku industri batik sehingga lebih berdaya ke depannya,” ujar Kepala Disperinaker Klaten Luciana Rina Damayanti, Kamis (2/10/2025).
Lebih lanjut, Rina mengungkapkan, Batik Klaten Minifest tak sekadar menghadirkan pameran dan kegiatan membatik bersama.
Termasuk memberikan pelatihan bagi perajin terkait bagaimana penggunaan digital dalam rangka peningkatan promosi pemasaran produknya masing-masing.
“Kita punya (motif) Sindu melati. Bahkan di salah satu acara ada penyampaian Surat Keputusan (SK) Motif Sindu melati. Ini yang kemudian bisa diterapkan pada produk-produk batik di Klaten,” ujar Rina.
Salah satu perajin batik tulis asal Bayat, Sarwidi, 52, mengungkapkan bahwa motif batik Sindu melati telah menjadi ikon dari Kota Klaten.
Diharapkan para perajin batik bisa mengembangkan, berinovasi dengan mengaplikasikan lewat berbagai media.
“Sindu adalah simbol kehidupan karena Sindu itu air. Kalau Melati itu memberi wewangian. Monggo, bagi para pelaku usaha yang ada di Klaten untuk meningkatkan produk dan kualitasnya dalam mengembangkan motif Sindu melati. Bisa diaplikasikan ke semua desain batik tulis,” ujar Sarwidi.
Lebih lanjut, Sarwidi juga mendorong penggunaan motif batik Sindu melati untuk diaplikasikan pada sebuah lukisan, mukena, topi hingga rok lilit pantai.
Harapannya mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke sentra kerajinan batik di Klaten.
Seperti yang sudah berjalan selama ini yakni kunjungan dari para pelajar ke sentra kerajinan batik Desa Jarum.
Tentunya perlu diikuti dengan inovasi dalam pengemasan kegiatan tersebut sehingga tidak hanya menarik wisatawan lokal saja tetapi juga mancanegara untuk datang belajar membatik.
“Klaten memiliki kekayaan batik dengan ciri khasnya masing-masing. Baik di Jarum, Kebon Indah, Banyuripan dan Prambanan. Mari kita saling bersinergi dan bergandengan tangan untuk terus berkarya,” ujar Sarwidi.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo yang hadir dalam acara tersebut berharap para perajin yang tergabung dalam klaster batik di Klaten semakin kompak.
Kemudian bergandengan tangan dengan pemkab sehingga ke depan batik asal Klaten bisa menasional dan mendunia.
“Hari ini salah satu ciri khas kita adalah Sindu melati. Nah bagaimana Sindu melati diremodifikasi dengan beberapa motif agar kemudian bisa lebih menarik. Tadi saya mengusulkan untuk dikombinasikan dengan motif Candi Plaosan sehingga semakin ikonik dari pekaiannya,” ujar Hamenang.(ren/adi)
Editor : Adi Pras