RADARSOLO.COM – Jumlah siswa SMPN 1 Wedi, Klaten yang diduga keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) terus bertambah.
Ambulans silih berganti menjemput para siswa yang baru merasakan gejalanya pada Kamis (9/10/2025) pagi saat kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.
Siswa merasakan gejala seperti pusing, mual, muntah dan lemas sempat dibawa ke Puskesmas Wedi.
Kemudian langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bagas Waras Klaten untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Berdasarkan data pada Posko di Puskesmas Wedi hingga Kamis (9/10/2025) pukul 10.45, terdapat 35 siswa keracunan.
Jumlah itu mengalami penambahan dibandingkan pada Rabu (8/10/2025) yang terdapat 13 siswa.
Dari total 35 siswa itu yang mendapatkan penanganan di Puskesmas Wedi terdapat satu siswa. Sedangkan yang dirujuk ke RSUD Bagas Waras terdapat 15 siswa. Sementara itu, 19 siswa telah menjalan rawat jalan.
Menindaklanjuti itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo langsung melakukan sidak terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Termasuk menjenguk para siswa yang menjalani rawat inap di rumah sakit.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menjelaskan, kondisi siswa yang diduga keracunan dampaknya tidak terlalu parah. Terutama mereka yang menyantap menu MBG hanya dua hingga tiga suapan.
Sedangkan yang menghabiskan menu MBG merasakan gelaja sesak napas. Meski begitu, tetap didampingi oleh para dokter dalam penangnannya.
”Sampai hari ini kami belum menetapkan kejadian luar biasa (KLB) dan masih dilakukan observasi seperti apa. Akan kita lihat seperti apa,” ujar Hamenang.
Hasil investigasi sementara, para siswa keracunan diduga dari olahan makanan daging.
Meski begitu, untuk kepastiannya, sampel makanan telah dikirim Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten ke laboratorium kesehatan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarya (DIY).
”Jangan sampai peristiwa seperti ini terulang kembali. Jadi mulai bahan baku masuk dicek, yang mau diolah di cek. Hingga bagaimana sterilisasi peralatan sampai dengan sesaat sebelum dikirim ke sekolah wajib diicipi untuk mengetahui layak atau tidaknya," ujar Hamenang. (ren/adi)