RADARSOLO.COM – Saat sejumlah daerah dihebohkan dengan kasus keracunan setelah makan menu makan bergizi gratis (MBG), suasana di SD Muhammadiyah Tonggalan (Muhtong) Klaten Tengah tetap berjalan tenang.
Bukan tanpa alasan. Sekolah ini telah terbukti mampu menjalankan program makan siang bergizi selama 10 tahun berturut-turut tanpa satu pun kasus keracunan.
Setiap pukul 12.00 siang, aroma masakan gurih memenuhi ruang-ruang kelas. Anak-anak duduk rapi menunggu giliran membuka kotak makan mereka. Menu hari itu sederhana tapi menggugah: nasi, abon, telur dadar, kering tempe, sambal, dan buah semangka segar.
“Menu selalu berganti setiap hari, jadi anak-anak tidak bosan,” tutur Ghufron Ahmad Al Muzakki, Kepala SD Muhammadiyah Tonggalan, saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Rabu (8/10).
Program makan siang bergizi di Muhtong bukan hasil proyek pemerintah, melainkan buah gotong royong antara sekolah dan orang tua siswa.
Saat pertama kali digulirkan, mereka diajak terlibat langsung menjadi penyedia makanan. Kini ada enam penyedia (catering) yang aktif memasok menu bergizi setiap Senin–Kamis.
Awalnya, kata Ghufron, anak-anak juga mendapat camilan tambahan. Namun setelah evaluasi, sekolah memilih fokus pada makan siang utama, sementara jajanan sehat disediakan di kantin sekolah.
Uniknya, jajanan yang dijual pun merupakan titipan dari orang tua siswa dengan ketentuan ketat—harus rendah minyak, tanpa pewarna, dan diawasi oleh guru.
“Kantin sehat dikelola oleh koperasi guru. Jadi setiap makanan yang dijajakan benar-benar kami pantau keamanannya,” jelas Ghufron.
Sebelum menu disajikan, pihak penyedia wajib menyerahkan daftar makanan untuk dievaluasi para guru. Komposisinya selalu lengkap: nasi, lauk, sayur, dan buah.
Contohnya, nasi dengan sop wortel brokoli, nugget, dan kelengkeng; atau ikan fillet dengan tumis sawi putih tahu dan jus mangga.
“Kalau menunya belum sesuai standar, kami minta diubah. Jadi tidak ada makanan yang asal jadi,” ujarnya.
Selain pengawasan internal, sekolah juga bekerja sama dengan Puskesmas untuk memeriksa kandungan gizi dan keamanan jajanan. Bahkan setiap semester, siswa menjalani pemeriksaan kesehatan rutin bekerja sama dengan rumah sakit mitra sekolah.
Program makan siang bergizi di Muhtong bukan hanya menjaga kesehatan, tapi juga membentuk karakter. Ke depan, sekolah berencana beralih ke sistem prasmanan agar siswa belajar mandiri dan disiplin melalui budaya antre.
“Dengan mengambil sendiri makanan, anak-anak belajar menghargai makanan, tidak berlebih, dan disiplin,” ujar Ghufron.
Setiap kotak makan yang disajikan dihargai Rp10 ribu per porsi, dibayar orang tua setiap bulan. Tak hanya siswa, guru dan karyawan pun menikmati menu yang sama dalam bentuk prasmanan—membuat pengawasan kualitas makanan semakin mudah.
Selama satu dekade berjalan, tidak ada satu pun kasus keracunan yang tercatat. Bagi Ghufron, itu bukti bahwa kerja sama dan kesadaran bersama jauh lebih efektif daripada sekadar instruksi program dari luar.
“Sampai sekarang belum ada sosialisasi MBG ke sekolah kami. Kalau pun nanti ada, kami akan diskusikan dengan orang tua dan komite dulu,” ujarnya.
Sementara itu, Bima Surya Madani, siswa kelas III, mengaku selalu menanti waktu makan siang.
“Menunya enak dan beda-beda tiap hari. Kadang ada nasi goreng, chicken katsu, sampai spageti. Jadi nggak pernah bosen,” katanya sambil tersenyum.
Dari dapur sederhana yang dikelola dengan semangat kebersamaan, SD Muhammadiyah Tonggalan membuktikan bahwa program makan bergizi bisa berjalan aman, sehat, dan mendidik karakter anak—tanpa perlu menunggu bantuan besar dari luar. (ren/bun)