Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Hasil Lab Keluar, Ini Penyebab Puluhan Siswa SMPN 1 Wedi Klaten Keracunan Menu MBG

Angga Purenda • Rabu, 15 Oktober 2025 | 22:01 WIB
Siswa SMPN 1 Wedi, Klaten saat dilarikan ke puskesmas diduga keracunan menu makan bergizi gratis (MBG), beberapa waktu lalu. (Angga Purenda/Radar Solo)
Siswa SMPN 1 Wedi, Klaten saat dilarikan ke puskesmas diduga keracunan menu makan bergizi gratis (MBG), beberapa waktu lalu. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Peristiwa keracunan yang menimpa puluhan siswa SMP Negeri 1 Wedi, Klaten pada Kamis (8/10/2025) seusai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terungkap.

Setelah hasil pemeriksaan laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Yogyakarta telah keluar.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten sebelumnya telah mengirimkan sampel makanan yang sempat disantap para siswa.

Mulai dari nasi, ayam krispi, buah, sayur sop dan susu yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Sembung, Kecamatan Wedi.

”Untuk hasilnya positif pada nasi dan sayu sop. Jadi positifnya pada nasi (mengandung bakteri) bacillius cereus. Sedangkan untuk sayur sopnya mengandung bakteri Escherichia coli (E.coli),” ujar Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto saat ditemui di Kelurahan Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah pada Rabu (15/10/2025).

Lebih lanjut, Anggit menjelaskan, dari kedua bakteri yang ditemukan pada nasi dan sayur sop itu yang menimbulkan para siswa mual dan muntah.

Hingga akhirnya dilarikan ke Puskesmas Wedi dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bagas Waras Klaten untuk mendapatkan penangangan medis lebih lanjut.

”Kalau ayamnya (yang awalnya diduga jadi penyebab siswa keracunan) secara uji laboratorium malah aman. Tidak ada bakteri yang berlebih,” ujar Anggit.

Anggit menduga, kedua bakteri itu berkembang pada nasi dan sayur sop dari proses penyimpanan hingga mengantarkan ke sekolah.

Terutama setelah selesai memasak hingga sampai ke siswa untuk dikonsumsi dinilai waktunya terlalu lama.

”Sebenarnya kalau bakteri E.coli akan mati dengan pemasanasan. Apabila pemanasan dilakukan dengan benar, otomatis bakteri akan mati. Berarti ini dalam proses penyimpanan atau mungkin mengantarkan (yang membuat nasi dan sayu sop terkontaminasi bakteri),” ujar Anggit.

Di sisi lain, dari uji laboratorium itu, juga diketahui bahwa hasil pemeriksaan air pada SPPG di Desa Sembung, Kecamatan Wedi yang memasok menu MBG di SMPN 1 Wedi juga mengandung bakteri E.coli yang sangat tinggi.

Atas hasil pemeriksaan laboratorium itu, maka dinkes mendorong peningkatan kualitas keamanan pangan di seluruh SPPG di Klaten. Termasuk perlunya menggelar pelatihan dan peningkatan kapasitas terkait keamanan pangan.

”Segala macam bentuk sanitasi hiegienisnya (perlu diperbaiki). Mulai dari penyimpanan bahan baku hingga pengolahannya,” ujar Anggit saat diminta yang diperlu jadi perhatian dari pengelola SPPG di Desa Sembung tersebut.

Sebelumnya, jumlah siswa SMPN 1 Wedi yang menjadi korban keracunan usai menyantap MBG terdapat 49 orang.

Total yang sempat menjalani rawat inap di RSUD Bagas Waras mencapai 38 orang. Sedangkan yang lainnya hanya menjalani rawat jalan.

”Tapi seluruhnya sudah pulang ke rumah. Mereka hanya berasal dari satu sekolah saja,” tambah Anggit.

Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengungkapkan Pemkab Klaten akan  melaporkan hasil pemeriksaan sampel makanan ke Badan Gizi Nasional (BGN). Termasuk terkait laporan dari hasil sidak ke SPPG di Desa Sembung, Kecamatan Wedi tersebut.

”Mengingat saya dan mas wakil sebagai bagian dari satgas kabupaten, sehingga kami sekadar melaporkan ke pusat. Nanti terkait kesimpulan, sanksinya dan keputusannya langsung dari BGN. Mengingat program ini dari BGN ke SPPG, tidak melalui pemerintah daerah,” ujar Hamenang. (ren/adi)

 

Editor : Adi Pras
#klaten #SPPG #Mbg #Makan Bergizi Gratis #Wedi #bakteri e coli