RADARSOLO.COM – Penantian panjang belasan tahun warga Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten untuk mendapatkan keamanan saat melintas di perlintasan sebidang kereta api (KA) JPL 254 Mbah Ruwet terbayar.
Palang pintu perlintasan kini telah resmi terpasang, lengkap dengan pos dan petugas penjaga.
Peresmian palang pintu bersejarah ini dilakukan oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Selasa (21/10/2025).
Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keselamatan masyarakat yang melintas di perbatasan antara Desa Pokak dan Desa Jombor, Kecamatan Ceper.
Salah satu petugas jaga perlintasan, Madu Basuki, 65, mengungkapkan, masyarakat setempat telah menunggu pemasangan palang pintu tersebut bertahun-tahun.
Selama kurun waktu itu pula, perlintasan tanpa palang pintu tersebut menjadi titik rawan kecelakaan.
”Alhamdulillah setelah ada palang pintu bisa semakin tertib dan aman. Kami sudah menunggu cukup lama,” ujar Basuki ditemui Radarsolo.com, Selasa (21/10/2025).
Basuki masih menyimpan memori kelam tentang kecelakaan tragis yang terjadi sekitar 15 tahun lalu di lokasi tersebut.
Insiden nahas itu melibatkan bus pembawa rombongan pengantin dengan Kereta Rel Diesel (KRD) Prambanan Ekspres (Prameks) pada 2009. Di mana menewaskan belasan korban.
Seperti diketahui, sebelum palang pintu otomatis saat ini ini dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Klaten, perlintasan Mbah Ruwet dijaga oleh sekelompok warga Desa Pokak secara sukarela. Honor yang mereka terima pun berasal dari dana sukarela.
Mereka bahkan berinisiatif membuat palang pintu manual sendiri. Hal itu dilakukan demi keselamatan sesama pengguna jalan yang melintas.
Tetapi kini palang pintu yang dulunya dioperasikan secara manual telah digantikan dengan sistem otomatis yang lebih modern.
Sementara itu, perjuangan Basuki tanpa pamrih menjadi penjaga perlintasan selama delapan tahun membuahkan hasil manis.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Klaten kini mengangkat Basuki dan lima orang lainnya menjadi petugas resmi penjaga pos palang pintu perlintasan sebidang Mbah Ruwet Pokak. Mereka mendapatkan honor rutin dari Dishub Klaten.
”Dari dulu rombongan teman-teman ini yang jaga, tapi sukarelawan. Jadi kadang ada, kadang tidak (terkait honor),” kenang Basuki, menceritakan kondisi sebelum diangkat menjadi petugas jaga perlintasan resmi.
Total ada enam petugas penjaga di perlintasan Mbah Ruwet. Mereka dibagi dalam tiga shift kerja, dengan dua orang bertugas di setiap sesinya setiap harinya.
Basuki menjadi jarang libur dari pekerjaannya. Meski begitu, dia telah berkomitmen sejak awal atas pilihan profesinya tersebut.
Basuki menyebut perlintasan Mbah Ruwet dikenal sangat ramai, terutama pada jam sibuk.
Hal itu dibutuhkan kosentrasi tinggi untuk memastikan kelancaran kereta api dalam melintas. Begitu juga keselamatan pengguna jalan yang melintasi perlintasan.
”Kadang kalau pas ramai itu mau menyeberang saja tidak bisa. Kalau ramai biasanya pagi jam 06.30-07.30 WIB. Kalau sore kadang ramai pukul 15.00, 17.00, dan 19.00 WIB,” jelasnya.
Mengingat di sekitar perlintasan Mbah Ruwet terdapat banyak pabrik di sepanjang jalan tersebut yang dilewati para pekerja. Begitu juga para pelajar yang hendak berangkat dan pulang dari sekolah. (ren/adi)
Editor : Adi Pras