Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Duh! Kasus TBC di Klaten Capai 1.435 Orang, Ini Gejala dan Pencegahannya

Angga Purenda • Jumat, 14 November 2025 | 01:41 WIB
Ilustrasi batuk. Gejala batuk dalam waktu lama harus diwaspadai karena bisa mengarah pada TBC.
Ilustrasi batuk. Gejala batuk dalam waktu lama harus diwaspadai karena bisa mengarah pada TBC.

RADARSOLO.COM – Kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Klaten tergolong tinggi mencapai 1.435 kasus.

Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten gencar melakukan pencegahan dengan berbagai upaya. Mulai dari skrining di berbagai tempat.

Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto menjelaskan, fokus penanganan TBC tersebut sejalan dengan kebijakan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Mengingat kasus TBC di Indonesia secara umum masih tergolong tinggi.

”Terkait dengan fokus kegiatan dinkes, tetap mengacu pada program dari Kementerian Kesehatan yakni untuk penatalaksanaan terhadap kasus TBC. Kami pun terus mengupayakan untuk skrining terhadap masyarakat Indonesia secara luas,” ujar Anggit, Kamis (13/11/2025).

Seperti diketahui, TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan karena adanya kuman mycobacterium tuberculosis yang masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Penyakit infeksi menular ini juga dapat menyerang organ tubuh, terutama paru-paru.

Ada pun gejalanya yakni batuk lebih dari dua minggu, mengalami sesak pada pernafasan dan berkeringat di malam hari tanpa aktivitas.

Apabila merasakan gejalan tersebut, maka pihaknya meminta segera berobat ke puskesmas atau klinik terdekat untuk segera diperiksa lebih lanjut.

”Dinkes terus aktif melakukan berbagai upaya skrining di berbagai tempat dan kelompok masyarakat, pondok pesantren dan sekolah. Tujuannya untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin,” ujar Anggit.

Seusai kasus ditemukan, memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas. Termasuk dinyatakan sembuh dengan tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Selain itu, sebagai langkah pencegahan penularan TBC dengan menggunakan masker. Begitu juga memahami etika batuk atau bersin dengan tutup mulut dan hidup dengan lengan atas bagian dalam maupun tisu. Termasuk sering melakukan cuci tangan pakai sabun dengan ai mengalir.

”Penanganan kami terhadap TBC ini, tentunya tidak mengurangi fokus kami terhadap penyakit lainnya. Seperti demam berdarah (DB), leptospirosis hingga kasus stunting yang perlu ditangani secara bersama-sama,” ujar Anggit.

Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo meminta dinkes memberikan perhatian lebih terhadap kasus TBC di Kota Bersinar. Di samping penyakit leptospirosis dengan angka kematian yang dinilai tinggi.

Dalam momen Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 beberapa waktu lalu, Hamenang mendorong penguatan komitmen insan kesehatan dalam membangun generasi yang sehat, tangguh dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

”Investasi terbesar bagi kejayaan bangsa adalah investasi pada kesehatan generasi mudanya. Generasi sehat bukan hanya terbebas dari penyakit, tetapi juga tangguh secara fisik, gesit dan berakhlak mulia,” ujarnya. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#dinas kesehatan #tuberkulosis #TBC #klaten #skrining #masker #Dinkes Klaten