Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ratusan Hektare Sawah di Ngawen Klaten Diserang Hama Tikus, Petani Mulai Andalkan Trap Barrier System

Angga Purenda • Jumat, 14 November 2025 | 22:43 WIB
Salah satu petani Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Klaten yang memperlihatkan TBS untuk menekan serangan hama tikus. (Angga Purenda/Radar Solo)
Salah satu petani Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Klaten yang memperlihatkan TBS untuk menekan serangan hama tikus. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Sektor pertanian di Kecamatan Ngawen, Klaten mendapatkan serangan hama tikus secara masif melanda ratusan hektare lahan persawahan. Hal menjadikan petani gagal panen total.

Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Ngawen Rino Ariawan mengungkapkan, serangan hama tikus dilaporkan mulai terjadi sejak akhir tahun 2024. Puncaknya berlangsung hingga pertengahan tahun 2025.

”Dari total luasan lahan tanam di Kecamatan Ngawen yang mencapai 957 hektare, ada sekira 60 persen terdampak serangan hama tikus. Serangannya begitu masif saat tanaman padi masih dalam fase vegetatif (pertumbuhan). Jadi sebelum malai, sebelum gabah, sudah dirusak duluan,” ujar Rino saat ditemui Radarsolo.com di Desa Candirejo pada Jumat (14/11/2025).

Lebih lanjut, Rino menyebut, serangan itu menyebabkan kerugian yang sangat parah bagi petani di Kecamatan Ngawen. Mengingat mereka tidak panen sama sekali karena serangan yang bertubi-tubi.

Untuk serangan hama tikus hampir merata di seluruh desa di Kecamatan Ngawen. Tetapi ada empat desa yang tercatat mengalami serangan luar biasa masif dan sangat merusak. Empat desa tersebut meliputi Desa Candirejo, Tempursari, Kahuman dan Manjungan.

Berbagai upaya pun sebenarnya telah dilakukan oleh petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk membendung serangan hama tikus.

”Mulai dari gropyokan, lalu pemberantasan dengan menggunakan obat dan umpan racun pun sudah kami upayakan juga. Termasuk menggunakan rodentisida ya sudah kita lakukan juga,” ujar Rino.

Dia mengungkapkan, upaya yang dilakukan itu belum efektif. Hingga akhirnya menerapkan Trap Barrier System (TBS) yang berfungsi sebagai pelindung lahan sawah dari serangan hama tikus. Termasuk dilengkapi setidaknya empat perangkap (bubu) di dalamnya.

Keberadaan TBS itu merupakan bantuan dari pihak swasta yang dipasang pada beberapa titik lahan persawahan. Mampu menjadi perangkap bagi tikus hingga 20 ekor lebih untuk di setiap titik.

”TBS ini bisa maksimal apabila juga didukung dengan proses perawatan alat oleh petani. Mengingat TBS ini sendiri sudah memadai dalam menekan serangan hama tikus,” ujar Rino.

Sementara itu, salah satu petani asal Desa Candirejo, Aris, 51, mengaku kini bisa bernapas lega setelah dua tahun berturut-turut gagal panen akibat serang hama tikus yang masif. Mengingat penerapan teknologi TBS yang melingkari sawah telah terbukti efektif menekan serangan hama tikus.

Baca Juga: Bidik Penghargaan Adipura, DLH Karanganyar Kebut Penataan TPA Sukosari

”Dulu, cara mengatasi nggih mboten saget (ya tidak bisa). Bahkan sebelumnya memang tidak pernah panen, sejak dua tahunan lalu," ujar Aris menceritakan pengalaman pahit sebelum adanya bantuan TBS tersebut.

Kerugian yang dialami cukup besar. Lahan Aris seluas 2.400 meter persegi tidak pernah panen selama dua tahun. Hingga akhirnya titik balik datang sejak pemasangan TBS di lahan miliknya sekira tiga bulan lalu.

Teknologi yang dilengkapi dengan pagar plastik dan perangkap bubu ini dipasang mengelilingi seluruh area lahan pertanian.

Alhamdulillah, sekarang serangan tikus sudah berkurang. Sudah kelihatan ada hasilnya. Besok Sabtu (15/11/2025) kami panen,” kata Aris. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #Hama Tikus #sawah #Ngawen #Trap Barrier System #Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian