RADARSOLO.COM– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten bergerak cepat merespons banjir yang melanda wilayah Delanggu, Selasa (2/12). Langkah penanganan dilakukan melalui kegiatan gotong royong pembersihan sungai di Dusun Klitak, Desa Banaran, Kecamatan Delanggu, Jumat (5/12).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung Wakil Bupati (Wabup) Klaten Benny Indra Ardhianto, diikuti jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat setempat.
Benny menjelaskan, intensitas hujan sedang hingga lebat dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sungai di wilayah tersebut meluap dan menggenangi permukiman warga.
“Antisipasi kita saat ini adalah membersihkan sungai. Karena kita lihat sampahnya luar biasa sehingga aliran sungai tidak bisa lancar,” ujar Benny saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di lokasi kegiatan.
Menurutnya, tumpukan sampah, ranting, hingga pohon tumbang menjadi faktor utama penyumbatan aliran air sehingga sungai meluap. Oleh karena itu, pembersihan dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah banjir kembali terjadi.
Pembersihan sungai ditargetkan berlangsung hingga minggu depan. Untuk percepatan, Pemkab Klaten menerjunkan 100 personel gabungan dan menurunkan alat berat. Selain di Dusun Klitak, kegiatan serupa juga dilakukan di Dusun Jogodayoh, Desa Karang, Kecamatan Delanggu.
“Tim kami dibagi dua lokasi karena selain di Klitak juga ada penanganan di Jogodayoh,” imbuh Benny.
Wabup Benny juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, penanganan sampah di Klaten tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga kesadaran warga, terutama di wilayah hulu sungai.
“Harapannya di hulu ini menjadi kunci penanganan sampah, minimal tidak membuang sampah di sungai maupun sembarangan,” tegasnya.
Dia menambahkan, bersama Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Pemkab telah mengimbau warga untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik mulai dari tingkat rumah tangga. Sementara di hilir, pemerintah terus melanjutkan peningkatan fasilitas pengolahan sampah di TPA termasuk penanganan air lindi.
“Saya berharap setelah pembersihan selesai, warga dapat menjaga sungai agar tidak kembali menjadi tempat pembuangan sampah. Ini penting untuk mencegah bencana serupa terulang,” tambah Benny.
Meski upaya penanganan terus dilakukan, dampak banjir masih menyisakan trauma bagi warga. Sri Rejeki, 43, salah satu korban banjir, mengisahkan bahwa air naik dengan sangat cepat hingga setinggi sekitar 1 meter.
“Hujannya deras, tapi tiba-tiba air sungai naik dan masuk ke rumah. Tingginya sampai 1 meter. Air baru surut setelah dua jam,” tuturnya.
Rumah Sri Rejeki termasuk di antara tujuh rumah terdampak banjir. Ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan pembersihan sementara, tetapi juga memberikan solusi permanen seperti normalisasi sungai dan peninggian tanggul.
“Kami sangat berterima kasih atas gotong royong pembersihan yang sekarang berjalan. Tapi kami berharap ada solusi jangka panjang supaya kami tidak cemas setiap hujan deras turun,” ujarnya. (ren/nik)
Editor : Niko auglandy