RADARSOLO.COM – Ada yang berbeda dengan suasana menyambut Natal di Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus, Kecamatan Wedi, Kabupaten klaten tahun ini.
Jika biasanya pohon Natal identik dengan pohon cemara yang berkilauan, tetapi di Wedi mengusung konsep unik dan sarat makna.
Sebuah pohon Natal dalam konsep melayang dengan ketinggian 50 cm dari permukaan tanah.
Pohon natal yang terbuat dari susunan kayu bakar dan bibit tanaman buah itu memiliki tinggi 5 meter yang terbuat dari susunan kayu bakar dan bibit tanaman buah dengan diameter sekira 2 meter.
Konsep inovatif itu lahir dari tangan dingin anak-anak muda kreatif gereja setempat yang menghadirkan suasana baru.
Sekaligus menyampaikan pesan keprihatinan terhadap lingkungan hingga menyebabkan bencana alam. Salah satunya banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Perwakilan Tim Kreatif Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi Fabianus Erik Muri Aditya mengaku baru pertama kali membuah pohon Natal dengan konsep melayang.
Untuk menopang struktur kayu bakar itu, tim menggunakan rangka besi agar lebih stabil dan kuat.
Penggunaan besi ini juga dimaksudkan agar material tersebut bisa digunakan kembali untuk konsep dekorasi di tahun-tahun mendatang.
Ada pun pengerjaan pohon Natal itu memakan waktu sekira enam hari.
Seluruh proses pembuatan pohon Natal dengan kosep melayanan itu dilakukan setiap malam hari setelah para umat pulang dari kuliah maupun bekerja.
Setiap malam, setidaknya ada 10-15 orang yang terlibat.
”Untuk tantangan terbesarnya yakni saat proses menaikkan struktur kayu di awal pengerjaan. Karena sistemnya digantung, dibutuhkan kerja sama tim yang solid untuk memastikan keseimbangan dan keamanan struktur setinggi 5 meter ini,” ujar Erik.
Sementara itu, Pastor Kepala Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr, menjelaskan, pohon Natal ini bukan sekadar dekorasi.
Di baliknya, tersimpan pesan mendalam tentang solidaritas terhadap bencana alam dan ajakan untuk merawat semesta.
Edy ingin Natal tahun ini menjadi momen refleksi atas kerusakan alam yang terjadi di berbagai tempat, salah satunya bencana di Sumatera.
”Ini wujud solidaritas dengan bencana di Sumatera. Yakni pohon-pohon yang tumbang atau ditumbangkan itu ya. Pohon Natal ini juga merespon jeritan mereka yang tumbang,” ujar Romo Edy. (ren/adi)
Editor : Adi Pras