RADARSOLO.COM-Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten melaporkan peningkatan signifikan kasus penyakit Leptospirosis sepanjang tahun 2025.
Sebanyak 155 kasus ditemukan dengan angka kematian mencapai 27 orang.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan drastis dibandingkan tahun 2024.
Tahun sebelumnya tercatat hanya 37 kasus dengan 9 kematian.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Dinkes Klaten karena tingkat fatalitas yang cukup tinggi.
"Ini menjadi suatu keadaan di mana memang kasus leptospirosis kita sangat tinggi dibanding tahun lalu. Pada 2024 kasus leptospirosis hanya di angka kurang dari 100," ujar Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto saat ditemui radarsolo.com beberapa waktu lalu.
Menurut Anggit, kondisi tanah yang basah atau becek menjadi faktor utama bertahannya bakteri leptospira.
Bakteri tersebut sangat bergantung pada kelembapan pada tanah setempat.
"Leptospirosis ini sangat mudah terjadi penularan ketika di tempat kondisi tanah yang becek. Jadi kalau tanahnya kering itu tidak akan bertahan hidup lama. Tapi kalau dalam tanah becek bakterinya akan bertahan hidup lama. Vektornya tikus, bagaimana pun harus menghindari tikus," urainya.
Selain di area persawahan, Anggit mengingatkan masyarakat untuk memutus rantai penularan di lingkungan rumah.
Upaya pemberantasan tikus harus dibarengi dengan pengelolaan sampah yang tepat agar tidak mengundang tikus datang.
"Jangan meninggalkan sisa makanan yang mengundang tikus datang atau membuang sampah yang terbuka. Dikarenakan di tempat-tempat seperti itu biasanya bawahnya juga becek. Tikus kencing di situ dan spora bisa bertumbuh lama di situ," jelasnya.
Salah satu kendala penanganan leptospirosis adalah gejalanya yang sering dianggap remeh oleh masyarakat, terutama para petani.
Bakteri masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Bahkan sekecil apa pun luka tersebut.
"Pintu masuk leptospirosis melalui luka. Kadang kita tidak menyadari lukanya kecil sehingga menjadi pintu masuk spora. Kalau tidak ada luka tidak bisa masuk. Kalau kondisi panas dan kering tidak bisa masuk," kata Anggit.
Terkait gejala awal, ia meminta warga peka terhadap rasa sakit di bagian kaki. Dari yang awalnya hanya merasakan nyeri di bagian betis dan paha belakang.
"Nyeri-nyeri dan biasanya masyarakat khususnya para petani itu kan kadang-kadang menganggap itu kecapekan habis aktivitas bertani. Nah, harapannya ketika melihat gejala seperti itu kok selama dua hari tidak terjadi penurunan gejala, segera dibawa ke rumah sakit." ujar Anggit.
Anggit menjelaskan, tingginya angka kematian di Klaten disebut akibat keterlambatan pasien dalam mencari bantuan medis.
Banyak pasien yang datang ke fasilitas kesehatan saat bakteri sudah menyerang organ vital.
"Kenapa kematian tinggi? Memang harus diakui bahwa keterangan dari rumah sakit menyebutkan bahwa sudah terjadi gejala yang mengarah pada rusaknya ginjal. Sehingga harus dilakukan cuci darah dan sebagainya," ungkap Anggit.
Secara medis, tata laksana penanganan meliputi terapi cairan untuk mengatasi demam tinggi, pemberian antibiotik, hingga vitamin.
Namun, jika kadar ureum dan kreatinin sudah tinggi akibat gangguan ginjal, tindakan medis yang lebih berat seperti hemodialisa menjadi tidak terhindarkan.
“Kami terus mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami demam disertai nyeri otot. Terutama bagi mereka yang sering beraktivitas di lahan basah atau area yang banyak terdapat tikus,” ujar Anggit. (ren)
Editor : Tri wahyu Cahyono