Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Produksi Padi dan Beras di Klaten Tahun 2025 Naik 14 Persen

Angga Purenda • Rabu, 21 Januari 2026 | 19:09 WIB
Petani di wilayah Kecamatan Polanharjo, Klaten mulai menggarap lahan padinya, Rabu (21/1/2026). (M.Ihsan/Radar Solo)
Petani di wilayah Kecamatan Polanharjo, Klaten mulai menggarap lahan padinya, Rabu (21/1/2026). (M.Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Produksi padi dan beras di Kabupaten Klaten sepanjang 2025 mengalami peningkatan signifikan sebesar 14 persen dibandingkan 2024. Hal itu semakin menegaskan Klaten sebagai salah satu lumbung pangan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten Iwan Kurniawan mengungkapkan, kenaikan tersebut dipengaruhi optimalnya penyerapan pupuk bersubsidi. Termasuk keberhasilan program luas tambah tanam (LTT) di Kota Bersinar.

Selain itu, produksi gabah kering giling (GKG) pada 2025 mencapai 346.278 ton. Naik 41.907 ton dari capaian 2024 yang berada di angka 304.371 ton. Kenaikan tersebut juga berbanding lurus dengan hasil produksi beras.

”Produksi beras tahun 2025 berdasarkan angka sementara sebesar 199.130 ton. Angka ini lebih tinggi sekitar 23.811 ton atau 14 persen jika dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 175.319 ton,” ujar Iwan, Rabu (21/1/2026).

Untuk tingkat konsumsi beras penduduk Klaten yang mencapai 129.524 ton per tahun. Maka Kabupaten Klaten mencatatkan surplus beras sebesar 69.606 ton.

Ia menyebutkan salah satu indikator keberhasilan tersebut tersebut realisasi pupuk bersubsidi yang meningkat drastis.

Pada 2025, alokasi pupuk mencapai 44.565 ton dengan realisasi sebesar 42.432 ton. Angka tersebut lebih tinggi 20 persen dibandingkan realisasi 2024.

”Penyerapannya meningkat signifikan, yang artinya luas tambah tanam juga berjalan maksimal. Dari target LTT 90.213 hektare, kita berhasil merealisasikan 83.350 hektare atau sekitar 92,37 persen,” tambahnya.

Terkait kesejahteraan petani, DKPP Klaten terus memantau harga pembelian pemerintah (HPP). Iwan menegaskan, pemerintah berupaya menjaga harga gabah kering panen (GKP) di level Rp 6.500 per kg.

”Secara umum harga di Klaten masuk di harga Rp 6.500. Memang ada dinamika di lapangan, ada yang menjual di atas itu. Ada juga yang sedikit di bawah karena tidak sabar menunggu jadwal serapan Bulog. Namun, kami bersama PPL terus mendampingi agar hasil panen petani terserap dengan harga yang layak,” jelasnya.

Memasuki 2026, DKPP Klaten memasang target yang lebih optimistis. Pemerintah pusat telah menetapkan target luas panen padi di Klaten sebesar 67.303 hektare. Sedangkan untuk target produksi GKG mencapai 378.426 ton.

Menurut Iwan, target itu didukung dengan penyaluran benih dan pupuk subsidi yang diprediksi kuotanya lebih tinggi dari 2025.

Ditambah rehabilitasi jaringan irigasi dan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). Termasuk optimalisasi alat mesin pertanian (Alsintan).

”Januari 2026 ini sudah mulai berjalan. Kami optimistis target bisa tercapai selama kondisi alam kondusif dan tidak ada cuaca ekstrem seperti El Nino. Intinya, sarana sudah disiapkan, tinggal kita dorong petani untuk maksimal dalam pemanfaatannya,” ujar Iwan. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#produksi padi #klaten #DKPP Klaten #pertanian #lumbung pangan