Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sentra Durian Randulanang Klaten, Rasa Manis Pahit yang Langsung Dijual di Rumah Warga

Angga Purenda • Kamis, 22 Januari 2026 | 16:25 WIB
Sejumlah wisatawan menikmati buah durian di Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Sejumlah wisatawan menikmati buah durian di Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Bagi para pencinta durian, nama Desa Randulanang di Kecamatan Jatinom, Klaten, kini menjadi destinasi yang wajib masuk dalam daftar kunjungan.

Desa ini telah menjelma menjadi sentra durian lokal unggulan yang menawarkan sensasi menyantap buah langsung di pemukiman warga yang asri dan tenang.

Memasuki Januari, Desa Randulanang tengah mengalami puncak panen raya. Meski tidak berderet di pinggir jalan raya, lapak-lapak durian milik warga di dalam perkampungan justru menjadi daya tarik tersendiri.

Salah satunya adalah lapak milik Wahyu, 29, warga setempat yang sudah lima tahun terakhir fokus mengelola usaha durian di rumahnya.

Durian yang dihasilkan dari pohon-pohon di Randulanang memiliki karakter rasa yang khas dan paling dicari oleh konsumen.

”Ciri khasnya durian lokal di sini itu manis pahit. Keunggulannya di situ, dan yang paling banyak dicari konsumen tetap yang rasa manis pahit itu,” ujar Wahyu ditemui di rumahnya sekaligus menjadi tempat lapak berjualan pada Jumat (16/1/2026).

Wahyu menyebut kualitas panen tahun ini pun dinilai sangat baik. Walaupun kuantitasnya tidak melimpah ruah, namun banyak buah dengan daging buah yang memenuhi syarat dan jarang ditemui buah yang hambar (anyep).

Potensi Desa Randulanang sebagai sentra durian memang tidak main-main. Di satu dusun saja, terdapat sekitar 60-70 kepala keluarga (KK) yang hampir semuanya memiliki pohon durian di pekarangan mereka.

Rata-rata setiap KK memiliki setidaknya tiga pohon durian. Bahkan ada yang memiliki hingga 10 pohon.

Dengan produktivitas rata-rata 40-50 buah per pohon, ribuan buah durian siap memanjakan lidah wisatawan setiap musimnya.

Keunikan durian Randulanang telah tersebar luas berkat kekuatan media sosial. Wahyu mengaku pada hari biasa ia bisa menjual sekitar 60-70 buah durian per hari.

Namun, saat akhir pekan atau hari libur, penjualannya melonjak drastis hingga 150 buah durian per hari.

Pembelinya pun bukan hanya warga lokal Klaten, Solo Raya maupun Yogyakarta, melainkan hingga mancanegara.

”Paling jauh kemarin ada yang dari Selandia Baru, kebetulan istrinya orang Cawas. Mereka sempat mampir ke sini mencicipi durian lokal. Mungkin tahu dari Google Maps atau TikTok,” cerita Wahyu.

Untuk harga, durian di Randulanang dibanderol cukup kompetitif. Mulai dari Rp 35 ribur ke atas, bahkan ada durian raksasa seberat 8 kilogram (kg) yang dijual Rp 250 ribu cukup disantap untuk 6-7 orang.

Menariknya, para pedagang di Desa Randulanang memberikan garansi penuh bagi pelanggan.

”Kalau yang harga Rp 35.000 ke atas itu ada garansinya. Misalnya dicicipi tidak enak atau hambar, langsung kita tukar di tempat,” tegas Wahyu. (ren/adi)

 

Editor : Adi Pras
#klaten #durian lokal #jatinom #yogyakarta #solo raya #durian