RADARSOLO.COM – Suasana Desa Ngreden, Kecamatan Wonosari, Klaten mendadak riuh pada Minggu (1/2/2026) sore.
Ratusan warga tampak berkerumun dan saling berdesakan demi memperebutkan tiga buah gunungan dalam tradisi Kirab Haul Ke-315 Ki Ageng Perwito.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, gunungan yang berisi 1.000 legondo dan 60 intip ludes tak bersisa.
Tak hanya makanan khas, gunungan berisi hasil bumi berupa sayuran serta makanan kecil anak-anak juga menjadi sasaran warga yang ingin "ngalap berkah" atau mencari berkah.
Rangkaian acara dimulai dengan kirab yang diikuti oleh Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Rombongan menempuh jarak sekira 2 kilometer (km), dimulai dari Balai Desa Ngreden menuju kompleks Makam Ki Ageng Perwito dengan mengelilingi kampung setempat.
Sesampainya di kompleks makam, perwakilan keraton menyerahkan bunga tabur dan tiga gunungan kepada juru kunci.
Setelah doa bersama dipanjatkan, momen yang ditunggu-tunggu pun tiba yakni perebutan gunungan.
Juru kunci makam sekaligus penanggung jawab acara, Sucipto,73, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bentuk syukur sekaligus upaya melestarikan adat agar tidak punah.
”Ini adalah Haul ke-315 Ki Ageng Perwito. Kami membuat tiga gunungan. Satu berisi Legondo dan Intip yang merupakan produk asli Ngreden, satu gunungan hasil bumi sebagai wujud syukur kepada Ibu Pertiwi, dan satu lagi makanan anak-anak agar generasi muda ikut gembira dan mengingat pesan orang tua,” ujar Sucipto.
Legondo merupakan panganan khas Desa Ngreden yang terbuat dari beras ketan. Dibungkus dengan janur dan diikat dengan tali bambu (tutus).
Menurut Sucipto, makanan tersebut bukan sekadar camilan. Melainkan memiliki filosofi spiritual yang mendalam bagi masyarakat setempat.
”Legondo berasal dari kata "Lego ning Dodo" (lega di dada), yang bermakna setiap perbuatan harus didasari rasa ikhlas dan hati nurani. Sedangkan beras ketan melambangkan "Keteke gen tekan" (denyut hati/hajat agar tersampaikan)," ujar Suripto.
Ki Ageng Perwito sendiri wafat sekira 1711. Dia dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam asal Demak. Hingga kini, makamnya masih menjadi pusat ziarah, terutama pada malam Jumat Wage.
Meski pembuat Legondo di Desa Ngreden kini hanya tersisa sekitar tujuh orang dari kalangan lansia, tetapi warga dan pengelola makam berkomitmen untuk terus menggelar haul tersebut setiap tahunnya. (ren/adi)
Editor : Adi Pras