Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Hanya Durian Matang Pohon yang Dibawa ke Festival Durian 2026, Begini Cara Petani di Jatinom Klaten Memilih Buahnya

Angga Purenda • Kamis, 5 Februari 2026 | 12:17 WIB

 

Petani durian Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten mulai memanen buah durian untuk gelaran Festival Durian 2026.
Petani durian Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten mulai memanen buah durian untuk gelaran Festival Durian 2026.

RADARSOLO.COM- Aroma harum durian mulai semerbak memenuhi udara di Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten.

Para petani setempat sibuk berlomba dengan waktu, memanjat pohon-pohon setinggi belasan meter untuk memanen buah durian terbaik.

Hal itu dilakukan untuk menyambut event akbar Festival Durian 2026 yang akan dihelat pada Minggu (8/2/2026) di Lapangan Merdeka desa setempat.

Festival tahun ini diprediksi akan menyedot ribuan pengunjung. Menyusul janji panitia untuk membagikan 6.000 paket buah durian kupas secara gratis.

Untuk memenuhi target tersebut, setiap Rukun Tetangga (RT) di Desa Randulanang diminta untuk menyiapkan sedikitnya 250 paket. Di mana setiap paketnya berisi empat hingga lima biji durian lokal kualitas premium.

Salah satu petani yang nampak sibuk adalah Jianto, 57.

Pria yang telah 15 tahun berkecimpung di buah durian ini bercerita bahwa menjadi petani durian di Randulanang bukan sekadar menanam.

Tapi juga harus memiliki mental baja untuk memanjat pohon setinggi 15-30 meter.

"Tekniknya memang harus naik. Kalau pohonnya terlalu tinggi, kami pakai bambu yang diikat ke batang untuk pijakan. Modalnya mental dan kopi. Ngopi dulu baru naik," seloroh Jianto saat ditemui di sela aktivitas panennya, Kamis (5/2/2026)

Jianto menjelaskan cara unik petani lokal memastikan kematangan buah di atas pohon.

Selain melihat guratan putih pada tangkai. Ia menggunakan kuku untuk mengeruk kulit durian.

Baca Juga: Februari 2026 Ceria, Ada Ramadhan, Imlek, hingga Valentine: Cek Tanggalnya

"Kalau bunyinya kruk-kruk, itu tandanya sudah ada rongga di dalam, berarti sudah tua dan matang pohon. Kalau bunyinya masih krek-krek, itu belum boleh dipetik," jelasnya.

Ia menjamin bahwa seluruh durian yang disetor untuk festival adalah durian yang matang di pohon sehingga rasanya tetap autentik.

Senada dengan Jianto, Nardi, 35, petani durian lainnya mengungkapkan, durian Randulanang memiliki karakteristik yang unik dibanding durian jenis lain seperti Durian Montong.

"Kalau durian lokal sini itu rasanya manis dan legit, tapi ada sentuhan pahitnya. Itu yang paling dicari pengunjung. Kalau yang warnanya kuning biasanya manis legit, sementara yang cenderung putih justru yang punya rasa pahit khas," kata Nardi.

Nardi mengungkapkan, pada tahun ini menjadi berkah tersendiri bagi petani karena hasil panen tergolong melimpah dibanding tahun sebelumnya.

Nardi sendiri yang mengelola sekira 15 pohon pribadi tersebut menyebut berat rata-rata durian lokal berkisar antara 2-4 Kg. Meski sesekali ia menemukan buah durian lokal seberat 7 Kg.

Desa Randulanang dikenal sebagai salah satu sentra durian di Kabupaten Klaten.

Hampir setiap rumah (KK) di desa ini memiliki pohon durian di ladangnya, dengan populasi petani mencapai lebih dari 200 orang.

Meski tumbuh secara alami tanpa banyak perlakuan kimia, kesuburan tanah di kaki Gunung Merapi ini menjadikan durian Randulanang tumbuh subur dengan kualitas istimewa.

Beberapa pohon bahkan diketahui telah berusia lebih dari 30 tahun dan masih produktif berbuah.

Selain durian, pengunjung festival besok juga bisa menemui hasil bumi lain seperti alpukat jenis mentega, aligator hingga miki. (ren)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#durian gratis #klaten #Desa Randulanang #cara memilih durian #jatinom #festival durian 2026 #lapangan merdeka #durian matang pohon #sentra durian