Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Talut Sungai Klirong Ambrol: Fondasi Rumah Warga di Tulung Klaten Menggantung dan Ancam Akses Jalan Provinsi

Angga Purenda • Kamis, 12 Februari 2026 | 17:45 WIB

 

Talut Sungai Klirong di Desa Majegan, Kecamatan Tulung, Klaten ambrol.
Talut Sungai Klirong di Desa Majegan, Kecamatan Tulung, Klaten ambrol.

RADARSOLO.COM- Cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Tulung pada Rabu (11/2/2026) sore mengakibatkan talut Sungai Klirong di Desa Majegan ambrol.

Peristiwa tersebut mengakibatkan satu rumah warga mengalami kerusakan parah pada bagian pondasi hingga dinding bangunan menggantung dan terancam roboh.

Rumah itu milik Dewi Puspita Sari yang berlokasi di Dukuh Ngemplak RT 07/RW 04, Desa Majegan.

Meski rumah tersebut milik Dewi, bangunan itu saat ini digunakan oleh Ika Apriyanti sebagai garasi motor.

Beruntung, saat kejadian sekitar pukul 16.30, rumah dalam kondisi kosong karena penghuninya sedang berada di Solo.

Kepala Desa (Kades) Majegan Widodo menjelaskan, debit air Sungai Klirong meningkat tajam setelah hujan deras.

Arus yang kencang menggerus talut yang memang sudah dalam kondisi rentan karena kerusakan pada bendung (dam) sungai sebelumnya.

"Waktu kejadian itu kan rumah kosong. Yang menempati pulang ke itu Solo. Karena suaminya di Solo," ujar Widodo, Kamis (12/2/2026)

Akibat kejadian tersebut, talut sepanjang 12 meter dengan tinggi 3 meter ambrol ke sungai. Dampaknya merembet hingga ke bangunan rumah di atasnya.

Luas lahan yang terdampak mencapai 12 x 4 meter dengan kondisi pondasi dinding yang kini menggantung di ketinggian sekitar 7 meter dari dasar sungai.

Widodo menilai, faktor usia bangunan talut dan minimnya konstruksi penguat menjadi penyebab ambrolnya struktur tersebut.

Baca Juga: Polemik Larangan Jualan Takjil di Jalan Protokol pada Bulan Ramadan, Forum Njogo Solo Geruduk DPRD

"Karena ini bangunan lama, bangunan tanpa cakar ayam. Mungkin dulu enggak ada semen atau campurannya kurang sehingga gampang ngambrol," jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya aturan jarak bangunan dari bantaran sungai.

"Ya, menurut saya ini pengalaman untuk pemilik lahan. Pelaksanaan (pembangunan rumah) kan dari bantaran sungai kan harusnya 3 meter," tambah Widodo.

Merespons kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten bergerak cepat melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR).

Kepala Pelaksana BPBD Klaten Syahruna menyebut, penanganan darurat segera dilakukan agar dampak longsor tidak meluas.

"Makanya tadi malam saya langsung sama BWWS, Dinas PUPR, kecamatan dan desa agar hari ini kami gerakkan. Kita pasang bambu dulu jangan sampai nanti melebar dampaknya," kata Syahruna

Syahrun juga menekankan pentingnya antisipasi dini karena lokasi longsor mulai mengancam akses jalan utama.

"Kondisinya memang sudah mulai mengancam ke akses jalan utama. Ya, kalau dibiarkan bisa (berdampak) pada Jalan Provinsi (ruas Jalan Jatinom-Boyolali) ya. Makanya kami antisipasi dulu untuk penanganan pertamanya," ujarnya.

Hingga saat ini, warga dan relawan terus bersiaga di lokasi untuk memantau pergerakan tanah di sekitar lokasi kejadian. Mengingat intensitas hujan di wilayah Klaten masih cukup tinggi.(ren)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#talut di tulung klaten ambrol #klaten #tulung #ambrol #Talut #Fondasi Rumah #BPBD Klaten #sungai klirong #Jalan Provinsi