Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sambut Ramadhan: 17 Kendi Mata Air dan Dua Gunungan Dikirab, Meriahkan Gebyar Padusan di OMAC Klaten

Angga Purenda • Selasa, 17 Februari 2026 | 16:22 WIB

 

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyiramkan air ke Mas dan Mbak Duta Wisata Klaten dalam Gebyar Padusan di OMAC Klaten, Selasa (17/2/2026).
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyiramkan air ke Mas dan Mbak Duta Wisata Klaten dalam Gebyar Padusan di OMAC Klaten, Selasa (17/2/2026).

RADARSOLO.COM-Pemkab Klaten kembali menggelar tradisi tahunan Gebyar Padusan di Objek Mata Air Cokro (OMC), Kecamatan Tulung, Selasa (17/2/2026).

Kegiatan digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H.

Acara berlangsung meriah dengan sentuhan budaya yang kental. Diawali dengan prosesi kirab air suci dan gunungan hasil bumi.

Prosesi kirab dimulai dengan barisan pembawa 17 kendi yang berisi air dari berbagai umbul di Klaten.

Angka 17 tersebut membawa makna mendalam, yakni pengingat peristiwa Nuzulul Qur'an yang jatuh pada 17 Ramadan serta hari kemenangan umat Islam dalam Perang Badar.

Di belakang barisan kendi, tampak dua gunungan yang menjadi pusat perhatian warga.

Berupa gunungan apem yang dikemas rapi dengan plastik dan diselipi uang kertas nominal Rp2.000 hingga Rp5.000.

Ditambah gunungan palawija sebagai ungkapkan rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi.

Kirab itu diikuti Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bersama jajaran Forkopimda.

Kemudian dilanjutkan pemukulan beduk menandai dibukanya gebyar padusan di OMAC Klaten.

Acara puncaknya ditandai dengan prosesi penyiraman air suci oleh Bupati Hamenang kepada Mas dan Mbak Duta Wisata Klaten.

Baca Juga: Kapan Sholat Tarawih Pertama 2026 Dilaksanakan? Ini Jadwal Menurut Muhammadiyah dan Hasil Sidang Isbat

Berasal dari 17 umbul yang telah disatukan dalam gentong. Hal ini menjadi penanda dimulainya musim Padusan secara resmi.

Suasana semakin meriah saat Hamenang dan Forkopimda Klaten mulai melemparkan kue apem dikemas plastik dan berisikan uang kertas serta hasil bumi kepada pengunjung.

Warga tampak antusias berebut sebagai bentuk mencari berkah menjelang bulan puasa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten Purwanto menjelaskan, tema tahun ini adalah Merti Rogo Padusan.

"Makna dari 17 air suci ini adalah rasa syukur atas karunia Allah SWT kepada Klaten yang dijuluki wilayah 1.001 umbul. Ini adalah simbol keharmonisan manusia dengan alam," ujar Purwanto.

Ia menambahkan bahwa pemilihan Objek Mata Air Cokro (OMAC) bukan tanpa alasan. OMAC merupakan aset strategis yang dikembangkan sebagai pusat edukasi, budaya, dan spiritual sehingga bukan sekadar tempat rekreasi.

Purwanto berharap agenda Gebyar Padusan tersebut mampu mendongkrak kunjungan wisatawan dan memperkuat UMKM lokal.

Sementara itu, Hamenang mengapresiasi peningkatan kualitas penyelenggaraan Gedyar Padusan dari tahun ke tahun.

Dia menekankan bahwa air di Klaten bukan sekadar untuk mandi, melainkan sumber kehidupan.

"Kita bersiap diri, setelah badan, jiwa, dan raganya bersih melalui Padusan, kita memasuki bulan suci Ramadan. Harapannya agar bisa beribadah lebih khusyuk demi meraih rida Allah SWT," tutur Hamenang.

Salah satu pengunjung OMAC, Kuncoro, 13, dari Kecamatan Tulung, Klaten mengaku datang ke Gebyar Padusan untuk bisa berebut kue apem berisikan uang kertas yang dilemparkan oleh bupati dan forkopimda.

“Kebetulan ini dapat lima kue apem. Di dalamnya terdapat uang pecahan Rp 2.000 dan Rp 5.000. Saya padusan hari ini, karena mulai besok saya sudah melaksanakan ibadah puasa,” ujarnya. (ren)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#puasa #padusan #kendi #mata air #Sambut Ramadhan #Gebyar Padusan #Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo #omac klaten #tradisi