RADARSOLO.COM - Berdiri megah dengan nama yang diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Juli 2025, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Bentangan, Wonosari, Klaten, seharusnya menjadi mercusuar ritel desa. Namun, di balik dinding-dinding kokohnya, tersimpan kisah perjuangan sunyi para pengurus yang bertahan di atas kaki sendiri.
Meski menyandang status proyek percontohan nasional, operasional harian koperasi ini ternyata murni digerakkan oleh semangat Ngulir Budi—sebuah filosofi memutar otak dan modal swadaya demi menjaga marwah organisasi.
Hingga menginjak usia lebih dari setengah tahun, Kopdes Merah Putih Bentangan rupanya belum mencicipi modal segar berupa uang tunai dari pemerintah pusat maupun daerah. Semua stok barang yang berjajar di rak gerai merupakan hasil strategi "titip jual" dari berbagai distributor.
“Kami istilahnya ngulir budi. Barang dititipkan, kami jual, ada hasilnya diputar lagi. Dari keuntungan kecil itulah kami bisa menggaji dua karyawan dan membayar tagihan listrik Rp 600.000 per bulan,” ungkap Wakil Ketua Bidang Anggota Kopdes Merah Putih Bentangan Pandiyono, Jumat (13/3).
Ironisnya, meski memiliki aset sarana senilai Rp 2,85 miliar—termasuk truk, mobil pikap, hingga alsintan—koperasi masih terseok dalam pengadaan stok barang. Bahkan, lima orang pengurus dan tiga pengawas hingga detik ini belum menerima gaji sepeser pun. Semua dilakukan atas dasar pengabdian.
Meski dalam keterbatasan, Kopdes Merah Putih tak tinggal diam. Mereka bergerak lincah membangun kolaborasi dengan berbagai BUMN. Bulog untuk pengadaan beras SPHP dan sembako, Pertamina khusus penyediaan gas LPG, Pupuk Indonesia guna mengamankan stok pupuk petani, dan PT Pos melayani logistik, pembayaran pensiunan, hingga penyaluran Bansos.
Bahkan, alsintan berupa mesin panen (Kombi) yang ukurannya terlalu besar untuk lahan lokal tak dibiarkan menganggur. Alat tersebut kini dikerjasamakan dengan koperasi di Sukoharjo melalui sistem bagi hasil.
Bagi warga seperti Samsiti, 44, kehadiran Kopdes Merah Putih adalah penyelamat dapur. Di tengah fluktuasi harga pangan, selisih harga Rp 1.000 untuk minyak goreng Minyakita sangatlah berarti.
"Senang ada koperasi di sini, harganya lebih murah dari pasar. Harapannya barangnya bisa ditambah lagi biar komplit, tapi harganya harus tetap murah," ujar Samsiti optimis.
Karyawan Kopdes, Nabila Rahmawati menyebutkan, omzet sembako kini berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 9 juta per minggu. Produk subsidi seperti beras SPHP dan Minyakita tetap menjadi primadona utama masyarakat.
Harapan besar kini digantungkan pada rencana pemerintah untuk menyuntikkan modal usaha yang disebut-sebut mencapai Rp 3 miliar. Suntikan dana ini diharapkan mampu mengubah gerai desa ini setara dengan ritel modern papan atas.
“Masyarakat berharap sekali datang ke sini semua komplit. Kami masih menunggu realisasi modal itu. Jika sudah masuk rekening, baru kami bisa berlari kencang,” ujar Pandiyono penuh harap.
Di antara deretan rak yang belum sepenuhnya penuh, para pensiunan yang menjadi pengurus ini tetap berdiri tegak. Baginya, amanah masyarakat jauh lebih berharga daripada insentif yang belum kunjung tiba. (ren)
Editor : Kabun Triyatno