RADARSOLO.COM – Mengambil titik kumpul di Tugu Air Mancur Alun-alun Klaten, perjalanan melintasi waktu dimulai.
Meski rintik hujan mengguyur pada Minggu, 18 Januari 2026, semangat untuk mengenang sejarah kota tetap membara di hati para pegiat komunitas Klaten Lampau.
Kegiatan bertajuk Walking Tour ini adalah inisiasi perdana dari dua pemuda pecinta sejarah, Airell Luthfan Ababiel dan Naufal Sa’ad.
Selama hampir dua jam, peserta diajak berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer untuk menyingkap wajah Klaten yang selama ini tersembunyi di balik pembangunan modern.
Pemilihan Alun-alun Klaten sebagai titik awal bukan tanpa alasan. Menurut Airell Luthfan Ababiel, alun-alun merupakan simbol pusat kebudayaan dan politik yang menjadi cikal bakal perkembangan kota.
"Dari alun-alun ini, kita bergerak ke arah Masjid Raya Klaten. Ternyata, lokasi masjid tersebut dulunya adalah sebuah benteng bernama Fort Engelenberg," ungkap Airell saat wawancara dengan radarsolo.com.
Fakta ini menjadi daya tarik utama. Jika Surakarta memiliki Benteng Vastenburg dan Yogyakarta punya Benteng Vredeburg, Klaten ternyata juga memiliki benteng kolonial yang eksistensinya nyaris terlupakan.
Klaten Lampau berupaya menghadirkan kembali sejarah benteng ini melalui narasi dan alat peraga seperti foto lama dan arsip koran sezaman.
"Kami memadukan visual dan narasi. Ada orang yang belajar dengan membaca, menonton, atau mendengarkan. Tetapi dengan foto lama, peserta bisa membayangkan situasi asli sambil melihat lokasinya sekarang," jelas Airell, lulusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro Semarang.
Baca Juga: Kebut Perbaikan Jalur Wisata dan Alternatif Mudik, DPUPR Klaten Gelontorkan Rp21 Miliar
Perjalanan tour berlanjut menyisir sisi selatan alun-alun, yang dulunya adalah kantor telepon, hingga menuju kompleks Gedung Sunan Pandanaran RSPD Klaten.
Bangunan ini ternyata merupakan rumah dinas dan kantor Bupati Klaten era kolonial sebelum berpindah ke lokasi sekarang.
Salah satu temuan menarik yang dibagikan Airell adalah fungsi rekreasi alun-alun di masa lalu.
Jauh sebelum adanya Stadion Trikoyo, alun-alun menjadi gelanggang permainan sepak raga.
"Kami menemukan catatan bahwa personel tentara dari Benteng Engelenberg pernah bertanding sepak raga dengan personel dari Benteng Vredeburg Yogyakarta di alun-alun ini. Ini menunjukkan betapa hidupnya ruang publik Klaten kala itu," tambah Airell antusias.
Meski jumlah peserta fisik terbatas, hanya tiga orang karena hujan, antusiasme di media sosial justru membeludak.
Peserta tidak hanya berasal dari Klaten, tetapi juga dari wilayah tetangga seperti Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Bagi Airell, walking tour ini bukan sekadar jalan-jalan santai. Ada misi besar untuk menumbuhkan kesadaran pelestarian budaya.
"Pelestarian tidak selalu berarti harus ikut menyapu atau membersihkan bangunan. Tetapi dengan memahami dan menolak lupa akan kisahnya, itu sudah merupakan bentuk perlindungan terhadap identitas budaya kita," tegasnya.(ren)
Editor : Nur Pramudito