Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Tidak Hanya Jual Selongsong Ketupat, Pedagang di Pasar Srago Klaten Ini Mampu Jelaskan Filosofinya

Angga Purenda • Kamis, 26 Maret 2026 | 16:45 WIB

Deretan pedagang selongsong ketupat memadati kawasan Pasar Srago, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Kamis (26/3/2026).
Deretan pedagang selongsong ketupat memadati kawasan Pasar Srago, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Kamis (26/3/2026).

RADARSOLO.COM-Menjelang perayaan Syawalan atau yang lebih akrab disapa Bakdo Kupat, suasana di Pasar Srago, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, mulai dipadati pedagang selongsong ketupat dadakan.

Sejumlah janur (daun kelapa muda) yang telah dianyam rapi menjadi berbagai bentuk mulai diburu warga untuk persiapan kenduri dan silaturahmi.

Salah satu pedagang yang ikut mengais rezeki musiman ini adalah Poniati (46).

Ibu asal Desa Lampar, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali ini rela menempuh perjalanan jauh setiap harinya ke Klaten demi menyuplai kebutuhan selongsong ketupat bagi warga Klaten.

Poniati menuturkan bahwa profesi aslinya sehari-hari adalah penjual jamu keliling menggunakan sepeda di desanya, sambil sesekali berjualan pakaian.

Namun, setiap menjelang Lebaran Ketupat, ia memilih beralih profesi sementara.

"Sehari-hari jualan jamu di desa pakai sepeda. Tapi kalau mau Syawalan begini, saya rutin setiap tahun jualan selongsong ketupat di Pasar Srago," ujar Poniati ditemui di sela kesibukannya menganyam janur, Kamis (26/3/2026).

Meski jarak Boyolali–Klaten terbilang cukup jauh, Poniati memilih laju (tidak menginap).

Setiap pagi ia datang membawa dagangan dan sore harinya kembali pulang.

Dalam dua hari terakhir, Poniati mengaku sudah menjual sekitar 2.400 selongsong ketupat.

"Ini buatnya bareng anak, berdua saja. Sebagian sudah dianyam dari rumah saat malam hari, nanti sisanya dilanjutkan di sini karena pembeli lebih suka janur yang masih segar dan baru," tambahnya.

Ada tiga jenis bentuk ketupat yang dijajakan Poniati dengan kisaran harga Rp8.000 hingga Rp10.000 per ikat (isi 10 selongsong), bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan anyaman.

Baca Juga: Pospam Lebaran Resmi Ditutup, Tim Urai Polres Boyolali Tetap Siaga Pantau Tol dan Rest Area

Menurutnya, setiap bentuk memiliki filosofi warisan leluhur:

Antusiasme pembeli pun terlihat jelas di lokasi. Salah satunya adalah Sartika (35), warga Desa Jurangjero, Kecamatan Karanganom, Klaten.

Ia sengaja mampir ke Pasar Srago untuk memborong 40 selongsong ketupat guna keperluan tradisi kenduri di desanya.

"Di tempat saya, Jurangjero, ada tradisi satu desa kumpul di tengah jalan atau tempat terbuka. Semua bawa ketupat lengkap dengan lauk opor ayam, sambal goreng, dan bubuk kedelai, lalu makan bersama-sama," cerita Sartika.

Bagi Sartika, perayaan Bakdo Kupat bukan sekadar soal menyantap hidangan lezat, melainkan momentum merawat kerukunan.

"Rasanya senang sekali bisa kumpul dengan tetangga dan saudara. Ini tradisi turun-temurun yang harus terus dijaga," syukurnya.

Hingga H-1 perayaan Syawalan, diprediksi arus pembeli di Pasar Srago akan terus mengalami peningkatan.

Mengingat tradisi Bakdo Kupat merupakan puncak dari rangkaian perayaan Idulfitri bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Klaten dan sekitarnya. (ren)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#kupatan #Pasar Srago Klaten #filosofi #lebaran ketupat #selongsong ketupat #bakdo kupat