RADARSOLO.COM–Ratusan warga tumpah ruah memeriahkan tradisi Kirab Bakdo Kupat di Padukuhan Kebonsari, Desa/Kecamatan Delanggu, Klaten, pada Jumat (27/3/2026) pagi.
Tradisi turun-temurun yang dikemas apik oleh Sanggar Rojolele ini sekaligus menjadi rangkaian pra-acara menuju Festival Mbok Sri 2026.
Berlangsung selama dua hari, yakni Kamis hingga Jumat (26-27/3/2026), kegiatan ini bertujuan memperkuat relasi sosial masyarakat agraris pasca-Idulfitri.
Prosesi puncak berupa kirab dimulai sejak pukul 06.00. Warga dengan antusias mengarak ambeng kupat—yang berisi sekitar 15 ketupat lengkap dengan sayur sambal goreng dan kerupuk—serta sebuah gunungan ketupat.
Arak-arakan ini menyusuri rute sejauh 2 kilometer melewati wilayah Dusun Keron, Kaibon, hingga Tegalsari.
Setelah kirab usai, gunungan dan ambeng tersebut didoakan dalam prosesi kenduri yang juga menjadi ajang halalbihalal bagi warga Kebonsari.
Untuk memantik kembali semangat warga dan memeriahkan tradisi yang sudah eksis sejak 1950 ini, Sanggar Rojolele turut menggelar serangkaian kegiatan edukatif dan hiburan rakyat, antara lain:
-
Workshop & Lokakarya Kupat: Mengajarkan generasi muda teknik menganyam janur hingga mengisinya dengan beras.
-
Adhang Kupat Syawal: Tradisi memasak ketupat bersama menggunakan tungku kayu secara gotong royong.
-
Pameran Foto: Menampilkan rekam jejak sejarah dan tradisi lokal warga Delanggu.
-
Pagelaran Wayang Kulit: Menjadi penutup rangkaian acara, digelar pada siang hari dengan lakon Wahyu Katentreman dan malam harinya membawakan lakon Wahyu Purba Sejati.
Direktur Festival Mbok Sri 2026 sekaligus Pendiri Sanggar Rojolele Eksan Hartanto menjelaskan, kirab ini bukan sekadar seremoni, melainkan sarana edukasi.
Ia mencatat adanya penurunan partisipasi dari keluarga muda dalam beberapa tahun terakhir akibat terputusnya transfer pengetahuan budaya dari generasi sebelumnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
"Banyak generasi muda hari ini yang belum terlalu memahami filosofi kupat yang sungguh sarat makna. Dengan kirab ini, harapan kami warga yang terlintasi jalurnya tertarik untuk menggali lebih jauh jati diri tradisi ini, sekaligus merekatkan kembali keguyuban dan kegotongroyongan warga Delanggu," terang Eksan, Jumat (27/3/2026).
Sementara itu, Sugianto (55), salah satu tokoh masyarakat setempat, menegaskan makna filosofis mendalam di balik hidangan ketupat. Menurutnya, ketupat atau kupat merujuk pada frasa ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.
"Kupat adalah simbol bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan. Melalui tradisi ini, kita mengikhlaskan hati untuk saling memaafkan agar kehidupan menjadi lebih baik. Sesuatu yang baik ini harus disiarkan agar kekompakan dan kerukunan menular ke tetangga lainnya," tuturnya bijak. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono