Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

​Ribuan Warga Padati Bukit Sidoguro, Tradisi Grebeg Syawal Klaten 2026 Berlangsung Meriah

Angga Purenda • Sabtu, 28 Maret 2026 | 14:21 WIB
Ribuan warga berebut 18 gunungan ketupat usai dikirab di Bukit Sidoguro, Kecamatan Bayat, Klaten (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Ribuan warga berebut 18 gunungan ketupat usai dikirab di Bukit Sidoguro, Kecamatan Bayat, Klaten (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

​RADARSOLO.COM - Suasana Bukit Sidoguro di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, mendadak riuh pada Sabtu pagi (28/3/2026).

Ribuan warga dari berbagai penjuru Klaten hingga luar daerah tampak memadati kawasan wisata tersebut untuk mengikuti tradisi tahunan Grebeg Syawal 1447 H.

​Acara yang mengambil tema Harmoni dalam Silaturahmi ini dihadiri langsung oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, jajaran Forkopimda serta para pejabat di lingkungan Pemkab Klaten.

Sebanyak 18 gunungan ketupat dikirab dan menjadi rebutan warga sebagai simbol keberkahan di bulan Syawal.

​Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten Purwanto menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. 

Baca Juga: Sarat Makna Ngaku Lepat, Kirab Bakdo Kupat di Delanggu Klaten Perkuat Kerukunan Warga Agraris

Selain sebagai bentuk pelestarian tradisi turun-temurun, Grebeg Syawal menjadi sarana silaturahmi yang unik.

​"Maksud tujuan kegiatan ini yang pertama adalah melestarikan tradisi budaya. Di Arab sana tidak ada halal bihalal, tapi di Indonesia ini menjadi budaya yang tetap lestari. Ini juga menjadi sarana silaturahmi antara masyarakat dengan Pamong Projo (pemerintah) untuk saling memaafkan," ujar Purwanto.

​Ia menambahkan, event ini merupakan strategi promosi pariwisata unggulan untuk kawasan Rowo Jombor dan Bukit Sidoguro. 

"Harapannya, aura kebahagiaan pengunjung hari ini bisa membawa berkah dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar," imbuhnya.

​Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengaku bangga dengan antusiasme masyarakat yang terus meningkat setiap tahunnya.

​"Alhamdulillah tahun ini ada 18 gunungan yang dibagikan. Selain itu, kami juga menyiapkan 1.000 porsi ketupat siap saji gratis untuk warga. Ini adalah simbol berbagi kebahagiaan setelah kita beribadah 30 hari di bulan Ramadhan," kata Hamenang.

​Terkait pemilihan ketupat sebagai ikon utama, Hamenang menjelaskan filosofi mendalam di baliknya.

​"Ketupat itu simbol dari lepat (kesalahan) dan meminta maaf. Jadi, ini simbol saling memaafkan di hari raya Idul Fitri," tambah Hamenang.

​Kemeriahan memuncak saat gunungan mulai diperebutkan. Meski harus berdesakan, warga tampak antusias mendapatkan isi gunungan yang terdiri dari ketupat, sayuran hingga buah-buahan.

​Salah satu pengunjung asal Trucuk, Sugianti, 58, mengaku rela berdesakan demi mendapatkan berkah dari gunungan tersebut.

Meski susah, ia berhasil membawa pulang beberapa buah jeruk, cabai, tomat, dan ketupat.

​"Tadi ikut berebut, susah sekali karena banyak orang. Rencananya hasil rebutan ini, kalau orang Jawa bilang, mau ditaruh di sawah saat tanam padi. Biar berkah dan hasilnya bagus," ungkap Sugianti dengan wajah sumringah.

​Acara kian semarak dengan hiburan musik dari OM Lorenza yang menghibur pengunjung hingga siang hari.

Suksesnya gelaran Grebeg Syawal, membuat Bukit Sidoguro semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Klaten.(ren)

Editor : Nur Pramudito
#Tradisi Grebeg Syawal Klaten 2026 #bukit sidoguro #klaten #Bulan Syawal #tradisi