Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Berkah Arus Balik 2026! Omzet Pusat Oleh-oleh Tradisional Klaten Meroket hingga 200 Persen

Angga Purenda • Minggu, 29 Maret 2026 | 12:01 WIB
Pemilih memilih camilan di pusat oleh-oleh tradisional A. Syakir Popongan, Desa Tegalgondo, Wonosari, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)Pemilih memilih camilan di pusat oleh-oleh tradisional A. Syakir Popongan, Desa Tegalgondo, Wonosari, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Arus balik Lebaran 2026 terbukti membawa berkah melimpah bagi para pelaku UMKM di Kabupaten Klaten.

Salah satu yang meraup untung besar dari momen tahunan ini adalah pusat oleh-oleh tradisional A. Syakir Popongan yang berlokasi di Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Klaten.

Memasuki akhir pekan (Sabtu-Minggu, 28-29/3/2026), pusat oleh-oleh legendaris ini tampak disesaki para pemudik yang berburu buah tangan sebelum kembali ke perantauan.

Baca Juga: Gelombang 2 Arus Balik Lebaran Lebih Landai, 40 Ribu Kendaraan Lintasi Ruas Tol Boyolali tanpa Macet

Pengelola pusat oleh-oleh A. Syakir Popongan Mustaqimah mengungkapkan, momen Lebaran tahun ini mendongkrak omzet usahanya secara drastis.

Ia menyebut volume penjualan meningkat tajam hingga 200 persen dibandingkan hari-hari biasa.

"Alhamdulillah meningkat 200 persen. Kebanyakan yang dicari oleh pemudik itu makanan tradisional seperti jenang, wajik, krasikan, sagun, hingga enting-enting," ujar Mustaqimah dengan raut wajah bersyukur, Minggu (29/3/2026).

Untuk menghadapi serbuan pembeli di musim mudik dan balik Lebaran ini, Mustaqimah menerapkan sejumlah strategi penyesuaian:

Kini, pusat oleh-oleh A. Syakir Popongan tak ubahnya titik kumpul favorit bagi para perantau dari Jakarta, Bogor, Surabaya, hingga luar Pulau Jawa.

Selain pemudik, banyak juga wisatawan lokal kawasan Soloraya yang mampir memborong jajanan seusai berlibur dari sejumlah wisata air (umbul) di Klaten.

Baca Juga: 4 Program Prioritas Pemkot Solo di 2026, Libatkan TNI-Polri Awasi Rantai Pasok MBG

Alasan para pemudik menjadikan jajanan ini sebagai buah tangan tak lain karena rasanya yang autentik dan sulit ditemui di kota-kota besar.

Trianto (43), warga Desa Daleman, Kecamatan Tulung yang hendak kembali ke Cimahi, Jawa Barat, sengaja mampir untuk memborong jenang dan krasikan.

"Saya baru sekali ke sini dan ternyata pilihannya komplet, harganya juga sangat terjangkau. Saya beli untuk oleh-oleh teman kerja dan tetangga di Cimahi. Orang-orang di sana sukanya yang khas, jadi ini sekaligus cara mengenalkan makanan daerah kita ke perantauan," bebernya.

Baca Juga: 213 Anggota KDMP Barepan Klaten Sudah Lunasi Iuran Wajib: Siap Beroperasi untuk Jual Sembako, Gas Melon, hingga Pupuk Bersubsidi

Hal senada disampaikan Suryo (31), pemudik asal Delanggu yang akan kembali ke Bogor. Ia tak ragu merogoh kocek hingga Rp436.000 untuk membeli stok aneka camilan, mulai dari keripik paru, jamur, wader, hingga cumi potong.

"Setiap mudik pasti ke sini. Harganya miring dan rasanya enak. Teman-teman di Bogor itu lebih suka camilan Jawa yang gurih dan pedas daripada yang manis-manis seperti roti. Makanya saya stok banyak, kan mumpung setahun sekali," pungkas Suryo tersenyum. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#pusat oleh oleh tradisional #buah tangan #wajik #krasikan #klaten #arus balik #Jenang #jajanan #Pemudik