Sejumlah wisatawan petik buah melon di green house yang dikembangkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Makmur Ketitang, Juwiring). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)RADARSOLO.COM – Desa Ketitang, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, kini memiliki ikon baru di sektor pertanian modern yang sangat menjanjikan. Melalui peran aktif Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Makmur, desa tersebut sukses mengembangkan budidaya melon premium jenis The Blues sekaligus membuka wisata petik buah dengan sistem green house.
Inovasi Minim Biaya dengan Galon Bekas
Direktur BUMDes Maju Makmur Ketitang Setyo Basuki mengungkapkan bahwa proyek produktif tersebut lahir dari alokasi dana ketahanan pangan sebesar 20 persen pada tahun 2025.
Alih-alih menghabiskan anggaran untuk infrastruktur yang mahal, pihaknya memilih jalan kreatif dengan memanfaatkan aset desa yang selama ini terbengkalai.
Baca Juga: CFD Boyolali Kembali Digelar 12 April, Jalan Merdeka Timur Siap Tampung Ratusan Pedagang
Dari total dana ketahanan pangan sebesar Rp202 juta, pengembangan green house ini hanya menyerap sekitar Rp40 juta, sementara biaya operasional hingga panen hanya berkisar Rp6 juta.
"Awalnya kami memiliki aset bangunan (kerangka tenda) yang dulunya akan disewakan tapi tidak laku. Daripada mangkrak, kami manfaatkan untuk green house. Untuk media tanamnya pun kami menggunakan galon bekas yang dipotong, belajar dari daerah lain," ujar Setyo saat ditemui di lokasi budidaya, Rabu (8/4/2026).
Pemilihan melon jenis The Blues pun bukan tanpa alasan. Varietas ini dinilai memiliki daya tahan yang kuat terhadap serangan hama, sehingga sangat cocok bagi pengelola yang baru pertama kali terjun ke dunia pertanian green house.
Secara fisik, melon ini memiliki kulit hijau dengan daging buah berwarna oranye yang memiliki tekstur renyah menyerupai buah pir, dengan tingkat kemanisan mencapai di atas 17 Brix.
"Kelebihannya tahan hama dan rasanya sangat manis. Bobot maksimal yang kami capai saat ini sekitar 1,8-1,9 Kg per buah," tambah Setyo.
Maksimalkan Lahan Terbatas
Meski berdiri di atas lahan terbatas berukuran 8 x 18 meter, BUMDes Maju Makmur berhasil memaksimalkan populasi hingga 500 pohon, jauh di atas standar ideal yang biasanya hanya 300 pohon.
Baca Juga: Bocoran Honda Jazz 2026 Hybrid Mulai Rp200 Jutaan? Ini Spesifikasi dan Fitur Lengkapnya
Hasil panen perdananya pun tergolong sukses besar, di mana 80 persen buah sudah ludes terjual dengan harga Rp30.000 per kilogram. Setyo menjelaskan bahwa rahasia keberhasilan mereka terletak pada efisiensi biaya produksi tanpa menurunkan standar kualitas.
Pihaknya menggunakan campuran media tanam berupa sekam bakar dan ladu (pasir sungai) dari pemasok lokal.
Berbeda dengan sistem pertanian modern yang serba otomatis, proses penyiraman di sini masih dilakukan secara manual oleh tenaga kerja lokal guna menjaga kedekatan pengelola dengan kondisi tanaman.
“Sentuhan tangan manusia membuat pengelola lebih peka terhadap kondisi kesehatan tanaman,” ujarnya.
Proyeksi Ikon Wisata Juwiring
Demi menjaga sterilisasi dari penyakit tanaman, pengelola menerapkan aturan ketat bagi pengunjung yang ingin memasuki area green house.
Baca Juga: Tak Hanya WFH ASN, Demi Efisiensi Anggaran Pemkab Sukoharjo Matikan AC Dan Lift Menara Wijaya
Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, BUMDes Maju Makmur berencana melakukan ekspansi dengan menambah bangunan green house baru agar siklus panen bisa berlangsung secara kontinu sepanjang tahun.
"Harapan saya, ini bisa jadi ikon pariwisata. Kami berencana membangun satu green house lagi di sisi selatan agar masa panennya bisa bersambung dan pengunjung bisa terus datang," jelas Setyo.
Target ke depan, dalam satu tahun BUMDes dapat melakukan tiga kali masa panen dengan siklus tanam sekitar 75-80 hari. Keberhasilan di Desa Ketitang ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menciptakan ekonomi kreatif di desa.
“Keberhasilan ini diharapkan menjadi pemantik bagi desa-desa lain di wilayah Juwiring. Saya memiliki mimpi besar untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata petik melon,” pungkasnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono