RADARSOLO.COM - Sebuah bangunan bergaya kolonial yang berdiri kokoh sejak 1929 menyimpan cerita tentang keteguhan sebuah keluarga di Klaten.
Tepatnya di Jalan Hos. Cokroaminoto No.1, Kelurahan Kabupaten.
Tepat di lokasi tersebut, terdapat kedai Susu Utomo, salah satu pelopor kedua susu sapi segar di Klaten.
Mengingat sudah menghangatkan tubuh para pelanggannya lewat produk susu sejak zaman sebelum kemerdekaan.
Sejarah Susu Utomo tak bisa dilepaskan dari sosok Liem Siang Hien, kakek dari Sajekty Sulistya, 69, yang akrab disapa Lili.
Baca Juga: Pemprov Jateng Gelar Lomba Artikel Mahasiswa Berhadiah Belasan Juta, Berikut Ketentuannya
Jauh sebelum dikenal sebagai juragan susu, keluarga Liem adalah pemilik usaha transportasi bus bernama Bis Eva yang melayani rute Solo-Yogyakarta pada era 1930-an.
Namun, roda nasib berputar saat pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang (1941-1942).
Armada bus yang masih laik jalan dipaksa pindah tangan ke pihak kolonial dengan bayaran uang yang dipotong setengah.
Sementara sisanya dirampas paksa oleh tentara Jepang. Di tengah situasi tersebut, seorang tetangga menawarkan jalan baru yakni memelihara sapi perah.
"Tahun 1942 kakek saya mulai usaha susu, dulu namanya Susu Liem. Karena belum punya kandang sendiri, awalnya pinjam tempat di tetangga sebelum akhirnya pindah ke bangunan ini," kenang Lili saat ditemui di kedainya, Kamis (16/4/2026)
Usaha susu sapi segar itu kemudian diteruskan oleh ayah Lili pada tahun 1956.
Di era inilah merek berubah menjadi Susu Utomo, mengikuti nama sang ayah.
Pada masa itu, minum susu belum menjadi gaya hidup masyarakat luas di Klaten.
Keluarga Liem harus babat alas dengan menawarkan susu dari toko ke toko. Hingga menyebarkannya secara cuma-cuma agar orang mengenal manfaatnya.
"Dulu jualannya masih susu mentah. Pelanggannya banyak, ada loper yang mengambil untuk dikirim sampai Prambanan, Delanggu hingga Wedi," cerita Lili.
Baca Juga: Wujud Kepedulian Polres Klaten, Salurkan 1 Ton Beras untuk Tukang Becak dan Ojek Pangkalan
Tantangan besar sempat datang pada tahun 1996 ketika program Kali Bersih pemerintah melarang adanya kandang sapi di pusat kota.
Lili, yang mulai memegang kendali sejak 1997, terpaksa memindahkan 24 ekor sapinya ke daerah Keputran, Kemalang.
Meski kandang ternak berpindah, operasional penjualan tetap bertahan di Jalan Hos. Cokroaminoto.
Kini, Susu Utomo telah memasuki babak baru di tangan generasi keempat (anak dari Lili).
Di bawah pengelolaan sang anak selama dua tahun terakhir, kedai tersebut tampil lebih adaptif. Jika dulu hanya buka sampai sore, kini Susu Utomo melayani pelanggan dari Pukul 06.00-21.00.
Menu yang ditawarkan pun kian beragam. Selain susu murni dalam kondisi panas dan dingin, pelanggan bisa menikmati berbagai varian rasa seperti vanila, stroberi hingga cokelat yang menjadi favorit. Bisa juga ditambahkan dengan madu, telur hingga jahe.
Ada pula menu unik yang jarang ditemui di kedai lainnya yakni susu kacang merah dengan gula aren.
"Sekarang saingannya banyak di sepanjang jalan, tapi orang-orang yang cari suasana tenang buat ngobrol biasanya ke sini. Kami juga sediakan camilan seperti dimsum, mie dan roti panggang untuk teman minum susu," tambahnya.
Baca Juga: Wujud Kepedulian Polres Klaten, Salurkan 1 Ton Beras untuk Tukang Becak dan Ojek Pangkalan
Meski tak lagi memelihara sapi sendiri dan kini bermitra dengan peternak lokal terpilih, Lili sangat ketat menjaga kualitas. Baginya, susu adalah komoditas yang sensitif.
"Susu itu menyerap bau. Kalau kandangnya tidak bersih atau sapinya tidak dimandikan, susunya bisa prengus. Kami pastikan ambil dari peternak yang kebersihannya terjamin," tegasnya.
Untuk harga, segelas susu matang dibanderol mulai dari Rp 7.000. Sementara susu mentah dijual Rp 24.000 per liter. Karena tanpa pengawet, susu tersebut hanya bertahan sekira 10 jam setelah diperah atau dimasak, membuat kesegarannya selalu terjaga setiap hari.
Bagi warga Klaten maupun pelancong dari Solo dan Jogja, Susu Utomo bukan sekadar tempat minum.
Tapi mengajak pelanggan dari berbagai daerah menikmati setiap tegukan susu sapi murni dalam ketenangan di tengah Kota Klaten. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono