Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Detik-detik Pemakaman Joko Catur, Korban Kecelakaan Helikopter Kalbar di Klaten: Tetangga Ungkap Pesan Tak Biasa Korban, Firasat?

Angga Purenda • Minggu, 19 April 2026 | 06:21 WIB
Suasana rumah duka di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Suasana rumah duka di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM- Suasana duka menyelimuti Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, pada Sabtu (18/4/2026) malam. 

Jenazah Joko Catur Prasetyo Sulistyo Wibowo, 45, salah satu korban jatuhnya Helikopter Airbus H130 dengan nomor registrasi PK-CFX di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Kamis (16/4/2026) akhirnya tiba di Klaten. 

Jenazah dishalatkan di rumah duka dan masjid setempat, kemudian dimakamkan di Makam Baru Glodogan.

​Almarhum Joko yang akrab disapa Bowo oleh warga sekitar, merupakan salah satu dari delapan korban jiwa dalam kecelakaan maut yang terjadi pada Kamis (16/4/2026) lalu. 

Baca Juga: Dua Ekor Sapi di Tawangsari Sukoharjo Terbakar Akibat Perapian 'Bedian', Bagaimana Kondisinya?

Isak tangis keluarga dan tetangga pecah saat ambulans yang membawa jenazah memasuki wilayah Perumahan Glodogan, tempat almarhum biasa tinggal saat pulang ke kampung halaman.

​Ketua RW 07 Slamet Riyadi sekaligus orang terdekat almarhum, mengenang sosok Joko sebagai pribadi yang sangat baik, pendiam dan bijaksana. 

Meski bekerja jauh di Pontianak sebagai karyawan, almarhum dikenal tetap rendah hati dan peduli dengan tetangga.

​"Beliau orangnya sangat bijak, tidak membeda-bedakan orang. Setiap pulang selalu membantu kiri-kanan," kenang Slamet saat ditemui di rumah duka.

Baca Juga: Apa Motif Siswa SMA di Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru? Viral di Media Sosial, Begini Nasibnya Sekarang

​Slamet juga menceritakan sebuah firasat yang baru ia sadari setelah musibah ini terjadi. 

Saat pulang Lebaran beberapa waktu lalu, almarhum menitipkan pesan yang tidak biasa kepadanya.

​"Waktu Lebaran kemarin mau balik ke Pontianak, beliau bilang titip Ibu dan jagain Ibu. Biasanya tidak pernah bicara begitu. Saya sempat bingung, kok tumben pesannya panjang lebar. Ternyata itu pesan terakhir beliau," tutur Slamet 

​Berdasarkan data yang dihimpun, helikopter PK-CFX yang ditumpangi almarhum sedang dalam perjalanan dinas melakukan checking area di wilayah Kalimantan Barat. 

Helikopter tersebut lepas landas pukul 07.37 WIB dari helipad PT CMA menuju PT GAN1, sebelum dinyatakan hilang kontak pada pukul 09.15.

Baca Juga: Akui Ini Penampilan Terburuk Persis Solo, Milomir Seslija: Arema FC Memang Pantas Menang

​Proses identifikasi sempat memakan waktu karena beberapa korban terjepit badan pesawat di lokasi jatuhnya heli di tengah hutan. 

Namun, pada Kamis (16/4/2026) malam sekitar pukul 20.00, seluruh korban termasuk almarhum berhasil teridentifikasi.

​Almarhum Joko meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih sekolah. 

Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas 2 SMP. Sementara si bungsu, masih menempuh pendidikan di taman kanak-kanak (TK).

Baca Juga: Benarkah Gaji Manajer Koperasi Desa Merah Putih Tembus Rp7,5 Juta? Cek Link dan Jadwal Pendaftaran di phtc.panselnas.go.id

​Selama ini, almarhum menetap di Pontianak bersama anak dan istrinya karena tuntutan pekerjaan. 

Ia biasanya hanya pulang ke Klaten setahun sekali saat momentum Lebaran. 

Untuk di Klaten sendiri, almarhum meninggalkan seorang ibu yang baru saja sembuh dari sakit.

​Kini Joko telah beristirahat dengan tenang di Makam Baru Glodogan, sekira 500 meter dari kediamannya. 

Diantarkan oleh ratusan pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir bagi sosok yang dikenal dermawan dan santun tersebut.

Kakak kandung almarhum, Sulistianto, yang juga bekerja dalam satu grup perusahaan di Kalimantan, mengenang adiknya sebagai sosok pimpinan yang sangat bertanggung jawab dan menjadi panutan bagi rekan kerja maupun bawahannya. 

Di mata keluarga, almarhum adalah tulang punggung sekaligus pemimpin yang memiliki jiwa mengayomi tinggi.

​"Sosoknya punya kepemimpinan yang nyata. Teman-teman, bahkan mantan bawahannya, semua sayang sama dia. Dia tipe pemimpin yang berani pasang badan untuk anggotanya. Istilahnya, dia yang tanggung jawab kalau ada apa-apa," ujar Sulistianto saat ditemui di rumah duka.

​Almarhum menjabat sebagai Plantation Head (PH) KPN Kalbar, sebuah jabatan strategis yang membawahi operasional wilayah Kalimantan Barat. 

Baca Juga: Dampingi Presiden Prabowo di Retreat Ketua DPRD, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Suarakan Pentingnya Super Team

Karir almarhum di dunia perkebunan dimulai sejak tahun 2006 di BGA, sebelum akhirnya pindah ke grup perusahaan saat ini sekitar dua tahun lalu.

​Tragedi tersebut terjadi saat almarhum tengah melakukan kunjungan kerja. 

Diketahui, almarhum sedianya akan berpindah tugas ke kebun lain dengan jabatan yang lebih tinggi.

​"Sebenarnya itu rute terakhir dari rangkaian kunjungan sejak tanggal 13 April. Harusnya itu lokasi terakhir sebelum beliau pindah jabatan. Kami tidak menyangka ini menjadi perjalanan terakhirnya," tambah Sulistianto yang juga bekerja sebagai asisten di perusahaan yang sama.(ren/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#kalimantan barat #helikopter jatuh #klaten #pemakaman #kecelakaan helikopter