Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Libatkan 50 Pelaku Seni dan Pegiat Lingkungan, Biennale Klaten 4 Suarakan Penyelamatan Lingkungan

Angga Purenda • Selasa, 21 April 2026 | 14:59 WIB
Liben saat menjelaskan terkait karya yang ditampilkan dalam Biennale Klaten 4 di Ruang Publik Lima Benua, Belangwetan, Klaten Utara, Selasa (21/4/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Liben saat menjelaskan terkait karya yang ditampilkan dalam Biennale Klaten 4 di Ruang Publik Lima Benua, Belangwetan, Klaten Utara, Selasa (21/4/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Gelaran seni dua tahunan Biennale Klaten 4 resmi dibuka dengan mengambil momentum peringatan Hari Kartini dan menyambut Hari Bumi pada Senin (20/4/2026) sore.

Mengusung teman environmental art atau seni lingkungan dengan tajuk Tak Gendong The Power of Women.

Melibatkan 50 pelaku seni dan penggiat lingkungan menjadi ruang pertemuan antara estetika klasik, kontemporer dan gerakan kesadaran ekologis.

Menghadirkan karya seni lukis, seni tari hingga karya instalasi yang berbahan besi bekas pakai tetapi memiliki nilai seni dengan berbagai bentuk.

Baca Juga: Resahkan Warga Kemlayan, Dua Pemuda Mabuk Asal Sukoharjo dan Pacitan Diciduk Tim Sparta Polresta Solo

Acara dibuka di Ruang Publik Lima Benua, Geritan, Belangwetan, Klaten Utara. Pembukaan dimeriahkan dengan penampilan performance art dari SMAN 3 Klaten dan kesenian Gedruk Saloka Budaya.

Dihadiri langsung oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik Muhammad Asrian Mirza. Begitu juga Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten Purwanto.

Ditambah Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Syahruna dan Kepala SMA Neger 3 Klaten Sutrisno.

Kurator sekaligus seniman muda asal Klaten Temanku Lima Benua menjelaskan bahwa tema “Tak Gendong” mencerminkan tanggungjawab besar dalam merawat alam.

"Krisis energi, pangan hingga lingkungan harus kita gendong atau tanggung bersama. Perempuan, khususnya sosok Ibu, adalah pihak yang paling merasakan dampak saat terjadi krisis. Oleh karena itu, narasi The Power of Women diangkat untuk menonjolkan peran penting perempuan dalam memilah sampah dari rumah dan menjaga keberlanjutan lingkungan," ungkap perempuan yang akrab dipanggil Liben ini.

Baca Juga: Resahkan Warga Kemlayan, Dua Pemuda Mabuk Asal Sukoharjo dan Pacitan Diciduk Tim Sparta Polresta Solo

Lebih lanjut, Liben menjelaskan, jika pameran kali ini tak hanya melibatkan pelaku seni dan penggiat lingkungan. Tetapi juga ibu-ibu pemungut sampah dan pemulung berkolaborasi menciptakan karya dari hasil riset sejak Oktober tahun lalu hingga saat ini.

“Biennale Klaten 4 kali ini menampilkan perpaduan dari lima maestro seniman klasik dan lima maestro kontemporer. Termasuk empah ahli tata kelola hingga seni lintas disiplin,” tambahnya.

Salah satu karya ikonik yang ditampilkan adalah instalasi Garuda dan simbol blue energy. Sosok Garuda dipilih sebagai simbol bakti kepada Ibu Pertiwi, selaras dengan semangat penyelamatan lingkungan.

Baca Juga: Menyentuh Akar Persoalan Perempuan hingga ke Desa

Selain sebagai ajang unjuk karya, Biennale ini merupakan bentuk keresahan terhadap tumpukan sampah yang dihasilkan generasi Z dan Alpha. Penyelenggara berharap melalui seni lingkungan, generasi muda lebih sadar terhadap pengelolaan limbah.

"Gol kami adalah menjadikan Klaten sebagai pusat industri dan diplomasi kebudayaan yang berkelanjutan. Kami mendukung visi Asta Cita untuk memperkuat hubungan antara alam dan budaya, dengan target Indonesia bersih sampah pada 2029," tambahnya.

Baca Juga: 7 Rekomendasi HP Murah Tahan Banting 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan tapi Super Kuat

Biennale Klaten kini bertransformasi dari kegiatan eksklusif menjadi hajatan bersama yang inklusif. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga subjek dalam ekosistem ekonomi dan budaya lokal. Pameran yang belangsung pada 20-22 April 2026 itu diharapkan menjadi agenda rutin setiap dua tahun sekali untuk terus menyuarakan identitas dan sejarah Klaten di kancah global. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#biennale klaten 4 #penyelamatan lingkungan #pegiat lingkungan #pelaku seni