RADARSOLO.COM - Tepat di tengah hiruk-pikuk Kota Klaten, tumbuh secara konsisten gerakan kolektif anak muda bernama Dapure Cah-Cah.
Sebuah gerakan konsisten untuk terus merawat kemanusiaan tanpa sekat yang hadir menjadi oase bagi mereka yang terpinggirkan.
Biasanya setiap minggunya, sebuah lapak sederhana digelar. Isinya bukan untuk diperjualbelikan, melainkan tumpukan pakaian layak pakai yang bisa diambil siapa saja secara cuma-cuma.
Baca Juga: Update Harga Emas Perhiasan Turun Hari Ini 24 April 2026: Cek Rincian Harga per Karat di Toko Besar
Seperti yang sudah terlaksana pada Kamis (23/4/2026) sore digelar di salah satu sudut Alun-alun Klaten.
Penggerak Dapure Cah-Cah Yohananda Verly Nando Puput Nugroho, 32, atau yang akrab disapa Verly menceritakan, gerakan tersebut lahir dari realita pahit yang ia saksikan di jalanan Klaten sejak 2018.
"Kegiatan ini berasaskan solidaritas. Sesimpel warga bantu warga," ujar Verly saat ditemui di sela kegiatannya, Kamis (23/4/2026)
Verly yang tumbuh di lingkungan jalanan, mengaku tidak ingin berpangku tangan melihat banyaknya tunawisma yang kedinginan saat malam hari.
Baginya, menunggu bantuan pemerintah seringkali terlalu lama. Bersama rekannya, ia memulai gerakan tersebut hanya berdua.
"Saya tidak punya kebiasaan untuk menunggu. Jika ada waktu dan kesempatan, laksanakan. Selagi bisa, ya dijalankan," tegas pemuda asal Manjung, Ngawen ini.
Baca Juga: Hutan Seper Jatipurno Wonogiri: Menikmati Udara Segar dan Ketenangan di Bawah Rimbun Pinus Wonogiri
Di Dapure Cah-Cah, tidak ada pemimpin. Semua orang setara. Verly menegaskan bahwa siapa pun yang ingin bergabung harus melepaskan atribut kelompok atau organisasinya.
Meski dikenal dengan lapak baju gratisnya, aksi Dapure Cah Cah merambah ke berbagai lini filantropi.
Mulai dari pembagian makanan untuk tunawisma di malam hari, pengadaan kursi roda hingga dukungan untuk SLB Mandiri.
Sumber daya yang mereka miliki murni berasal dari semangat kolektif. Pakaian didapatkan dari donasi teman-teman sekitar dan di media sosial.
Verly juga mengajak masyarakat untuk mengurangi budaya konsumerisme.
"Daripada baju numpuk di lemari dan tidak terpakai, lebih baik diberikan ke sini. Jangan menimbun barang yang sebenarnya tidak berfungsi di tanganmu, tapi sangat berarti bagi orang lain," pesannya.
Bagi Verly, kemewahan sejati bukanlah sorotan kamera, melainkan saat melihat dampak kecil yang bermakna.
Ia mengenang salah satu momen paling berkesan saat seorang anak yang dulu sering mengambil baju di lapaknya, kini tumbuh menjadi siswa berprestasi dan masih mengingatnya.
"Hal-hal kecil yang konsisten itu lebih penting. Saya percaya pola itu selalu jujur dan kesederhanaan adalah kemewahan yang tidak terlihat oleh mata," tutur pria yang juga mengelola sanggar ketoprak dan tari di rumahnya ini.
Melalui Dapure Cah-Cah, Verly dan kawan-kawan membuktikan bahwa untuk membantu sesama, kita tidak perlu menunggu menjadi kaya atau berkuasa.
Cukup dengan satu langkah kecil, konsistensi dan empati yang tulus.
Kehadiran lapak baju gratis sangat dirasakan manfaatnya oleh para pekerja informal.
Salah satunya adalah Karno, 56, seorang pedagang bakso keliling asal Wonogiri yang sudah 8 tahun merantau di Klaten.
"Ini sudah kedua kalinya saya ke sini. Hari ini dapat celana, tadi yang terakhir saya ambil. Senang sekali, bisa buat ganti kalau jualan, jadi bisa menghemat," ujar Karno sambil menunjukkan celana barunya.
Karno berharap gerakan seperti ini terus berlanjut karena sangat membantu rakyat kecil seperti dirinya. Baginya, pakaian layak yang ia dapatkan bukan sekadar kain, melainkan bentuk dukungan moril untuk terus berjuang mencari nafkah di jalanan Klaten. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono