RADARSOLO.COM - Lapangan Desa Sajen, Kecamatan Trucuk, Klaten berubah menjadi lautan ternak kambing dan domba unggulan pada Minggu (26/4/2026).
Ratusan peternak memadati lokasi untuk mengikuti ajang bergengsi Bupati Cup III 2026.
Kontes kambing kaligesing dan domba itu menjadi magnet bagi para pecinta sektor peternakan.
Baca Juga: Dongkrak Wisata Candi Cetho, Ratusan Rider Taklukkan Jalur Ekstrem Forest Adventure Trail
Tidak hanya dari Klaten saja, tetapi juga dari wilayah tetangga seperti Gunungkidul, Boyolali, hingga lingkup Soloraya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten Iwan Kurniawan menyatakan, antusiasme peserta sangat tinggi dengan jumlah pendaftar mencapai 150-200 peserta. Bahkan peserta terus bertambah sepanjang acara.
"Ini adalah kontes tingkat lokal Bupati Cup yang ketiga. Rencananya di tahun 2026 ini akan ada dua event besar; hari ini yang tingkat lokal dan nanti di bulan Juli akan kita gelar untuk tingkat regional. Ini rutin kami lakukan setiap tahun," ujar Iwan.
Lebih lanjut, Iwan menjelaskan, pada perhelatan Bupati Cup III 2026 ini membagi kompetisi ke dalam beberapa kategori.
Untuk Kategori Kambing Kaligesing, persaingan dibatasi bagi peserta dari wilayah Klaten, Gunung Kidul, dan Boyolali.
Kelas yang dilombakan meliputi Kelas Jantan yang terbagi menjadi kelas A, B, C, D, dan E, sedangkan untuk Kelas Betina hanya mempertandingkan kelas C, D, dan E.
Baca Juga: Halalbihalal NU Karanganyar, Bupati Rober Christanto Ingatkan Warga Jangan Terpecah Isu Negatif
Sementara itu, pada Kategori Domba, persaingan dibuka lebih luas bagi peserta dari seluruh wilayah Soloraya.
Adapun kelas yang dipertandingkan dalam kategori ini adalah kelas Non Poel, kelas Poel 1,dan kelas paling bergengsi yaitu Kelas Extreme.
Selain itu, terdapat pula Kategori Kambing Boer yang diikuti oleh peserta se-Soloraya dengan pembagian kelas Non Poel dan kelas Bebas.
“Untuk kambing kaligesing, penilaiannya menitikberatkan pada aspek seni atau estetika. Mulai dari bentuk kepala, telinga, tanduk, bulu, ekor, hingga keserasian tubuh. Sedangkan domba lebih difokuskan pada bobot berat badan dan kesehatan fisik,” ujar Iwan.
Baca Juga: Seleksi Popda 2026: 53 Pemanah Muda Karanganyar Pecahkan Rekor Partisipasi Terbanyak
Pemkab Klaten berharap melalui kontes rutin tersebut, masyarakat semakin termotivasi untuk mengembangkan peternakan berkualitas.
Iwan menegaskan bahwa ternak yang pernah memenangkan kontes atau setidaknya memiliki sertifikat keikutsertaan akan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi.
"Harapan kita tentu menambah nilai ekonomi. Masyarakat akan bergerak mencoba mengembangkan ternak, apalagi jika ternaknya masuk kategori juara, harganya pasti melonjak," ujar Iwan.
Di tengah keriuhan kontes, sosok Febri, 16, siswa kelas X SMA Negeri 1 Wedi, mencuri perhatian.
Meski masih remaja dari Desa Sribit, Wedi ini sudah melanglang buana ke berbagai daerah seperti Purworejo dan Temanggung untuk mengikuti kontes ternak.
Tahun ini, Febri membawa domba andalannya jenis Crossing Garut seberat 101 kilogram untuk bertarung di Kelas Extreme. Kelas paling bergengsi dalam kontes domba.
Baca Juga: Menuju Konser Juli 2026, Pesona Lagu Dolanan Anak Kembali Memikat Publik Kota Solo
"Suka domba sejak SMP karena melihat bapak jual beli ternak. Sekarang fokus ikut kontes dan breeding. Paling jauh pernah ikut lomba sampai Purworejo dan Temanggung, bahkan pernah menang piala Bupati di sana," cerita Febri.
Biaya perawatan tergolong fantastis mencapai kurang lebih Rp 15 juta per bulan untuk pakan, vitamin hingga sampo khusus—Febri mengaku tetap menekuninya karena hobi dan nilai ekonomi yang menjanjikan.
"Pernah jual domba kontes sampai harga Rp 25 juta di umur 4,5 tahun. Kalau yang saya ikutkan kontes ini sudah dirawat dari kecil selama 3 tahun," tambahnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono