Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Cerita Wakil Kepala SMPN 1 Tulung Klaten yang Lolos dari Gejala Keracunan Diduga Akibat Menu MBG: “Saya Tidak Makan Telur Puyuhnya”

Angga Purenda • Rabu, 29 April 2026 | 15:23 WIB

 

 Siswi SMPN 1 Tulung yang mengalami gejala keracunan mendapat perawatan medis di Puskesmas Majegan Tulung, Rabu (29/4/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Siswi SMPN 1 Tulung yang mengalami gejala keracunan mendapat perawatan medis di Puskesmas Majegan Tulung, Rabu (29/4/2026). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Kasus keracunan yang diduga akibat mengonsumsi menu makan bergizi gratis kembali mencuat.

Belasan guru dan ratusan murid SMPN 1 Tulung Klaten mengeluhkan sakit perut, diare, hingga muntah-muntah setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Selasa (28/4/2026). 

Dari sekian banyak guru dan murid yang mengalami gejala keracunan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Tulung Kris Hadiana beruntung tak mengalami hal serupa.

Baca Juga: Keracunan Massal Diduga Akibat MBG Berlanjut, Ratusan Siswa dan Guru SMPN 1 Tulung Klaten Diare hingga Muntah-muntah

Kris menjelaskan, paket menu MBG tiba di SMPN 1 Tulung sekira pukul 09.45 dan langsung dibagikan kepada siswa pada pukul 10.00. 

Pihak sekolah sebenarnya telah melakukan pengecekan sebelum dibagikan.

"Waktu datang sebenarnya layak konsumsi, tidak ada tanda basi. Bapak dan Ibu guru juga ikut mencoba sampelnya,” ujar Kris kepada radarsolo.jawapos.com, Rabu (29/4/2026). 

“Saya pribadi ikut makan, tapi Alhamdulillah aman karena saya tidak makan telur puyuhnya karena alasan kolesterol. Rekan guru yang makan telurnya justru terdampak," imbuh dia.

Buntut dari kejadian ini, pihak sekolah bersama Forkopimcam Tulung memutuskan untuk menghentikan sementara program MBG di SMPN 1 Tulung hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Baca Juga: 5 Mobil Toyota Bekas Kabin Luas untuk Keluarga, Harga Terjangkau dan Nyaman Dipakai Harian 

Saat ini, pihak Puskesmas telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan tersebut.

"Kami menunggu evaluasi dan hasil uji lab dari Dinas Kesehatan (Dinkes) sebelum program ini bisa dijalankan kembali," ujar Kris. 

Diketahui, hingga Rabu (29/4/2026), dari data sekolah tercatat sebanyak 225 siswa dan 18 guru dilaporkan mengalami gejala mual, muntah hingga diare.

Gejala keracunan tidak langsung dirasakan saat para siswa berada di sekolah, melainkan saat mereka tiba di rumah masing-masing.

Baca Juga: Perawat RS Cipto Mangunkusumo Asal Boyolali Jadi Korban Meninggal Kecelakaan Kereta, Keluarga Kenang Kepulangan Mendadak Farida sebelum Musibah 

Hal itu membuat sembilan siswa menjalani rawan inap di Puskesmas Majegan Tulung dan dua siswa di RSU PKU Muhammadiyah Jatinom.

Sedangkan ratusan siswa lainnya menjalani rawat jalan maupun pengobatan secara mandiri di rumah.

Salah satu siswa Ardina, 13, siswi kelas VII, mengaku mulai merasakan sakit perut dan pusing sejak Selasa (28/4/2026) sore.

Baca Juga: Perawat RS Cipto Mangunkusumo Asal Boyolali Jadi Korban Meninggal Kecelakaan Kereta, Keluarga Kenang Kepulangan Mendadak Farida sebelum Musibah 

Padahal, ia mengaku tidak mengonsumsi makanan lain sepulang sekolah.

"Setelah makan (menu MBG) sorenya mulai mual dan muntah. Padahal pulang sekolah belum makan apa-apa lagi, cuma makan itu saja. Menunya ada galantin, bakso, sup, telur, tempe, dan anggur," ungkap Ardina. (ren)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#smpn 1 tulung klaten #keracunan mbg #muntah #mual #diare