RADARSOLO.COM - Akses jalan desa yang berada di tepi Sungai Dengkeng, tepatnya di Dusun Wetan Pasar, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten tidak bisa dilintasi.
Jalan alternatif yang menghubungkan Paseban, Bayat dengan Melikan, Wedi tersebut ambrol setelah tanggul dan tanah di bawah aspal tergerus derasnya arus sungai.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi jalan yang sangat memprihatinkan.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Mei 2026 Belum Cair? Simak Cara Autentikasi Andal by Taspen Agar Cepat Diproses
Sebagian badan jalan sudah hilang jatuh ke sungai, menyisakan tebing curam yang langsung berbatasan dengan aliran air.
Untuk mencegah jatuhnya korban, jalur tersebut kini ditutup rapat dengan memasang garis pengaman dan penghalang agar tidak dilintasi kendaraan maupun pejalan kaki.
Indra 36, salah seorang warga Dusun Wetan Pasar, menuturkan, kerusakan jalan tersebut terjadi sejak dua bulan lalu.
Awalnya, derasnya arus sungai merobohkan rumpun bambu yang berada di tepi sungai.
"Awalnya itu ada pohon bambu yang roboh kena angin dan tergerus arus sungai. Karena bambunya ambruk ke sungai, arus airnya jadi berbelok dan menghantam tanah di sini (bawah jalan). Padahal dulunya jarak tanah ke sungai itu masih sekitar 4 meter," kata Indra, Jumat (1/5/2026).
Jalan selebar 3 meter tersebut merupakan jalur vital bagi warga setempat.
Meski statusnya jalan desa, namun mobilitas di jalur ini sangat tinggi, terutama pada pagi hari untuk anak sekolah dan warga yang menuju pasar.
"Ini jalur alternatif favorit. Kalau jalan raya utama sedang macet, atau saat ada keramaian, warga lewat sini semua untuk memotong jalan. Kalau lewat jalan utama bisa memutar sampai 2 kilometer lebih," tambahnya.
Sementara itu, pada Jumat (1/5/2026), Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo meninjau langsung lokasi kerusakan didampingi oleh jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos dan P3APPKB), Camat Bayat hingga perangkat desa setempat.
Bupati Hamenang mengungkapkan bahwa material untuk penanganan darurat sebenarnya sudah siap di lokasi, namun pengerjaan belum bisa dilakukan karena faktor alam.
"Kami sudah cek langsung bersama relawan dan dinas terkait. Penyebabnya memang intensitas hujan tinggi dan adanya pohon bambu yang roboh sehingga mengalihkan hantaman air ke sudut jalan ini," jelas Hamenang.
Bupati mengungkapkan bahwa kedalaman sungai di titik tersebut cukup berbahaya, mencapai lebih dari 3 meter dengan arus yang masih sangat kuat. Hal ini menjadi kendala utama bagi para relawan dan petugas untuk mulai penanganan darurat pada lokasi.
"Kenapa hari ini belum bisa dieksekusi? Padahal bahan material sudah siap. Karena cuaca belum mendukung dan arus sungai masih sangat deras. Sangat berisiko bagi keselamatan petugas," tegasnya.
Pemkab Klaten memastikan tidak akan tinggal diam. Penanganan jalan tersebut akan dilakukan melalui kerja sama antara pemkab, BPBD, relawan serta masyarakat setempat.
Baca Juga: Bekas Kolam Ikan di Wonosari Klaten Dijadikan Sarang Pengoplosan Gas Bersubsidi, Kades pun Kaget
Selain itu, pemerintah daerah juga akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo selaku otoritas yang berwenang atas aliran Sungai Dengkeng.
"Insyaallah dalam beberapa hari ke depan, jika cuaca mendukung dan arus mulai tenang, segera kita laksanakan kerja bakti. Kami akan libatkan seluruh stakeholder agar akses jalan ini segera bisa dimanfaatkan kembali oleh warga," tutup Bupati.
Untuk sementara, warga diimbau tetap menggunakan jalur utama Bayat-Cawas. Terlebih lagi tidak nekat menerobos garis pengaman di lokasi jalan yang ambrol demi keselamatan bersama. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono