RADARSOLO.COM-Teka-teki penyebab keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di SMP Negeri (SMPN) 1 Tulung, Klaten, akhirnya terungkap.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten menyatakan bahwa hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Bacillus sp.
Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto mengungkapkan, kepastian tersebut didapatkan setelah hasil pemeriksaan sampel dari Balai Laboratorium Kesehatan (Balkes) Yogyakarta keluar.
Baca Juga: Rayakan Hari Jadi ke-222, Pemkab Klaten Gelar Lomba Desain Logo Berhadiah Puluhan Juta Rupiah
Sampel yang diuji meliputi komponen menu makan siang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para siswa pada Selasa (28/4/2026) lalu.
"Dari hasil pemeriksaan sampel yang kami kirim ke Balkes Yogyakarta, baik telur puyuh, galantin, maupun kuah timlo, semuanya positif Bacillus sp," ujar Anggit saat memberikan keterangan, Selasa (5/5/2026)
Anggit menjelaskan bahwa Bacillus sp. merupakan jenis bakteri yang mampu tumbuh di dalam bahan makanan dan berkembang menjadi spora.
Karakteristik utama bakteri ini adalah daya tahannya yang tinggi terhadap panas, sehingga tidak mudah mati meskipun telah melalui proses pemasakan.
"Dugaan kami, bakteri ini sudah ada dan berkembang di dalam bahan makanan tersebut. Karena karakteristik Bacillus sp. ini memang dengan pemanasan tidak mudah mati," tambahnya.
Terkait munculnya bakteri tersebut, dinkes menekankan pentingnya standarisasi dalam pemilihan dan penyimpanan bahan baku.
Baca Juga: Boyolali Berduka: Mantan Wakil Bupati Agus Purmanto Meninggal Dunia di RSUD Pandan Arang
Menurut Anggit, bahan makanan berisiko tinggi menjadi tempat berkembang biak bakteri jika tidak dikelola dengan tepat sejak tahap awal.
"Kami menekankan mulai dari pemilihan bahan dan penyimpanan bahan itu wajib sesuai dengan standar. Jika suhu penyimpanan tepat, yakni di bawah tujuh derajat Celsius, bahan makanan bisa awet lebih dari 2x24 jam," jelasnya.
Sementara itu, kabar baiknya, seluruh korban yang sempat menjalani rawat inap kini telah dinyatakan sembuh.
Sebelumnya, tercatat ada 17 orang yang harus diobservasi secara intensif di Puskesmas Majegan Tulung hingga RS PKU Muhammadiyah Jatinom.
"Semuanya sudah pulang dalam kondisi yang baik. Yang sebelumnya bergejala (mual, muntah dan diare) juga sudah tidak keluar lagi gejalanya," kata Anggit.
Baca Juga: Alasan Kereta Api Argo Bromo Anggrek Ganti Nama Jadi KA Anggrek, Benarkah Untuk Buang Sial?
Berdasarkan data terakhir hingga Kamis (30/4/2026), total terdapat 584 guru dan murid yang sempat melaporkan gejala keracunan.
Pasca-keluarnya hasil lab tersebut, Dinkes Klaten telah melakukan langkah-langkah koordinasi.
Pihak Puskesmas diminta untuk terus melakukan surveilans serta monitoring dan evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait untuk memastikan kesesuaian syarat kelayakan.
Laporan hasil penelitian laboratorium tersebut juga telah diteruskan kepada Korwil Badan Gizi Nasional (BGN) di Klaten serta pemilik SPPG yang bersangkutan.
Namun, mengenai sanksi atau tindakan lebih lanjut terhadap penyedia makanan tersebut, Anggit menegaskan hal itu bukan berada di bawah wewenang dinkes.
Baca Juga: Program Wonogiri Go Keren: Perlindungan Pekerja Rentan Jadi Perhatian Pemkab
"Kewenangan terkait hal apa yang nanti itu bukan kewenangan kami. Itu ranahnya di BGN," ucapnya. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono