RADARSOLO.COM-Hari ketiga pelaksanaan 35th International Cycling History Conference (ICHC) di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (20/5/2026), menjadi momentum bersejarah.
Konferensi internasional yang dihadiri delegasi berbagai belahan dunia tersebut resmi melahirkan Piagam Klaten.
Piagam itu menjadi komitmen global untuk mengembalikan dan menggelorakan budaya bersepeda di era modern.
Baca Juga: Marak Aktivitas Asusila di Ruang Publik Solo, Pemkot Siapkan Sanksi Tegas, Panggil Orang Tua
Seperti diketahui ICHC merupakan bagian dari rangkaian Klaten Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest).
Pada acara puncak plenary session ICHC tersebut dihadiri oleh pembicara utama yakni guru besar Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Amalinda Savirani.
Termasuk Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Yusuf Nugroho.
Begitu juga Duta Besar Jerman untuk Indonesia Rafl Beste serta Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen.
Dalam konferensi tersebut, kedua dubes membagikan transformasi kultural di negara mereka pada era 1970-an dan 1980-an yang sempat didominasi mobil.
Namun kini berhasil berbalik menjadi negara dengan budaya bersepeda terbaik demi kesehatan warga dan kualitas lingkungan.
Menurut Yusuf, momentum ICHC ke-35 itu harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan budaya keselamatan bagi para pesepeda di jalan raya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat guna mewujudkan lingkungan jalan yang layak dan aman bagi pesepeda.
“Momen ini bisa dimanfaatkan bahwa yang pertama bagaimana upaya kita bersama untuk meningkatkan budaya berkeselamatan bagi para pesepeda. Khususnya di transportasi jalan bagi para pesepeda. Tentunya juga bagaimana kita meningkatkan budaya bersepeda dengan baik ya untuk sebagai sarana transportasi menghadapi di seluruh kondisi saat ini,” urai Yusuf.
Menanggapi lahirnya Piagam Klaten, Yusuf menegaskan bahwa Kemenhub mendukung penuh hasil rumusan tersebut.
Baca Juga: Warga Polokarto Sukoharjo Korban Laka Maut Bukit Bego Lumpuh, Bantuan Terus Mengalir
Komitmen yang tertuang di dalamnya akan dijadikan sebagai refleksi bersama dan dokumen best practice yang dapat dicontoh oleh wilayah-wilayah lain di Indonesia. Tentunya disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing.
Kebahagiaan dan rasa bangga juga diungkapkan oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo. Ia menyebut kehadiran Dubes Belanda dan Jerman menjadi awal sejarah baru yang membuktikan bahwa bersepeda mampu menyatukan dunia.
Hamenang berharap dampak ICHC ke-35 ini tidak berhenti setelah konferensi selesai. Sebagai langkah strategis jangka panjang, Pemkab Klaten menjajaki kerja sama Sister City dengan Kota Amsterdam, Belanda.
"Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun sejarah konferensi sepeda internasional, Klaten, Indonesia, dipercaya menjadi tuan rumah. Jika dulu Indonesia punya Bandung dengan Konferensi Asia Afrika-nya, hari ini kita melahirkan Piagam Klaten. Piagam inilah yang akan kita gelorakan menjadi spirit bersama, tidak hanya di Klaten, tetapi di seluruh dunia," tegas Hamenang.
Guna konferensi tersebut memberikan dampak nyata di tingkat lokal, Hamenang bergerak cepat menyiapkan langkah jangka pendek. Pemkab Klaten akan segera menginisiasi kebijakan Jumat Bersepeda bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN).
"Kita mulai dari hal yang paling mudah. Kita laksanakan untuk teman-teman ASN yang jarak rumah atau radiusnya 5 kilometer ke bawah untuk bersepeda setiap Jumat pagi. Sebelum kita mengajak masyarakat, pemerintah harus memberikan contoh terlebih dahulu," kata Bupati.
Selain membangun kebiasaan, Pemkab Klaten juga mengadopsi masukan dari Dubes Jerman mengenai pentingnya penyediaan infrastruktur pendukung yang aman dan nyaman.
Selain jalur sepeda di area perkotaan yang sudah ada, fokus ke depan adalah perbaikan fasilitas, perluasan jalur, serta penyediaan spot parkir khusus sepeda yang aman.
Hamenang berharap bersepeda kembali menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat Klaten. Mulai digunakan dari pergi bekerja, belanja ke grosir hingga menghadiri rapat RT di tingkat desa untuk jarak pendek. (ren)
Piagam Klaten Tentang Sepeda, Kebudayaan,
dan Masa Depan Berkelanjutan
Kami menyatakan bahwa :
1. Sepeda adalah warisan budaya dunia sekaligus instrumen masa depan.
2. Kota yang baik adalah kota yang ramah bagi manusia.
3. Bersepeda adalah aksi nyata keberlanjutan.
4. Kebudayaan adalah fondasi mobilitas berkelanjutan.
5. Desa, kota kecil dan kawasan budaya memiliki peran penting dalam masa depan dunia.
Klaten, 20 Mei 2026
Cycling History Conference